News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Penangkapan Terduga Teroris

Terduga Teroris Imron Pasok Senjata Api dari Filipina

Penulis: Adi Suhendi
Editor: Anwar Sadat Guna
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Seorang terduga teroris, Joko Priyanto (baju abu-abu) ditangkap anggota Densus 88 di Jalan Flamboyan Dalam, Purwosari, Laweyan, Solo, Minggu (23/09/2012). Sejumlah anggota Densus 88 berlari saat penangkapan terduga teroris di Jalan Flamboyan Dalam, Purwosari, Laweyan, Solo, Minggu (23/09/2012). Dalam beberapa hari terakhir, Densus kembali menangkap terduga teroris, di Depok dan Poso.

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Adi Suhendi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Imron, terduga teroris yang ditangkap di Palu, Sulawesi Tengah, mempunyai peranan penting dalam jual beli senjata api antarsesama anggota kelompok teroris alumni pelatihan militer Poso yang dipimpin teroris paling dicari, Santoso.

Imron memiliki peranan sebagai kurir kelompok teroris pimpinan Santoso dan menjadi fasilitator pelatihan teror di Sulawesi Tengah dan ikut dalam pembelian senjata api.

"Dia diduga orang yang membeli senjata api dari Filipina Selatan, dan ikut merakit bom yang ada di Solo," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (10/10/2012).

Selain itu, saat ini Polri pun sedang mengembangkan apa yang dilakukan Imron selama berada di Sulawesi Tengah, termasuk sejumlah perampokan dengan kekerasan dalam rangka mencari dana untuk melakukan aksi teror.

"Dia pernah melakukan aksi fa'i atau pencurian dengan kekerasan (curas) beberapa kali di sulawesi, akan diperiksa, dimana saja melakukan curas tersebut," ucapnya.

Imron merupakan alumni Dams Shahada, Boyolali, Jawa Tengah. Pria kelahiran 26 Januari 1986 tersebut berprofesi sebagai petani dan tinggal di Desa Labuan, Kecamatan Lage, Poso.

Imron pun terkait dengan sejumlah penemuan bom di Beji, Depok dan di Solo beberapa waktu lalu.

"Ia belajar merakit bom dari kelompok Badri (Solo) dan Kelompok Thoriq, serta melakukan fa'i berulang kali di wilayah Sulawesi Tengah atas perintah Santoso (teroris yang saat ini masih DPO). Ia memiliki dan menggunakan senjata api revolver untuk kegiatan fa'i," ujar Boy.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini