News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Protes Sikap Franz Magnis, Dipo Alam Kerdilkan Dirinya Sendiri

Penulis: Srihandriatmo Malau
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Sekretaris Kabinet, Dipo Alam (tengah) hadir saat mediasi terkait ucapannya untuk memboikot Media Indonesia dan Metro TV, di kantor Dewan Pers, Jakarta Pusat, Rabu (2/3/2011). Mediasi yang dilakukan Dewan Pers secara terpisah ini belum ada titik temu antara kedua belah pihak dan Dipo Alam belum mau meminta maaf terkait ucapannya tersebut.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin menilai pernyataan Sekretaris Kabinet Dipo Alam soal protes rohaniawan Romo Franz Magnis Suseno tak tepat dan sangat kerdil dilakukan seorang pejabat negara.

Di Twitter, akun @dipoalam49 milik Dipo, Seskab ini menilai surat terbuka Franz Magnis Suseno kepada Appeal of Conscience Foundation (ACF) lembaga yang akan memberikan penghargaan World Stateman Award kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tak akurat. Dia misalnya berkicau, "Masalah khilafiyah antar umat Islam di Indonesia begitu banyak, jangan dibesarkan oleh yang non-Muslim, seolah simpati minoritas diabaikan."

Twit Dipo soal polemik pemberian penghargaan bergengsi ini pada SBY dilakukan sejak Selasa 21 Mei 2013 lalu. Twit terakhirnya adalah tiga jam lalu. Ada sekitar 12 kicauan Dipo di media sosial tentang topik ini.

Twit yang paling banyak dibicarakan adalah ketika Dipo menegaskan, "Umaro, ulama dan umat Islam di Indonesia secara umum sudah baik, mari lihat kedepan, tidak baik pimpinannya dicerca oleh yang non-muslim FMS."

"Saya tak setuju dengan kicauan itu. Sepertinya menjadi kerdil," tegas Ketua DPP PDI-Perjuangan ini kepada Tribunnews.com, Jumat (24/5/2013).

Menurut TB Hasanuddin, silahkan saling mengkritik. Karena kritik itulah yang akan membuat bangsa ini menjadi maju dan besar. Dan kritik itu harus berdasarkan logika dan fakta.

Namun, kritik harus tetap dalam bingkai kehidupan bangsa dan negara. Yang tak jauh lebih penting adalah kritik harus dijiwai atas semangat pluralisme dan jangan menyerang urusan pribadi apalagi SARA.

"Romo Magnis kan bicara fakta. SBY memang tak pernah intervensi dalam urusan intoleransi. Sepertinya semacam pembiaran, masa harus dapat penghargaan," ucapnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini