News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Catatan Pakar dari UI Soal Peristiwa yang Bikin SBY Bereaksi Keras

Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ketua Umum Partai Demokrat (PD), Susilo Bambang Yudhoyono memberikan arahan dalam acara temu 10.000 kader PD mulai dari pengurus anak cabang (PAC) hingga dewan pimpinan pusat (DPP) di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Sabtu (26/10/2013). Acara yang digelar dalam rangka perayaan HUT ke-12 Partai Demokrat ini sekaligus sebagai ajang konsolidasi internal.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pakar Psikologi Politik Universitas Indonesia, Hamdi Muluk, menilai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengerti citranya di mata publik mencapai titik terendah, tak seperti pada periode pertama pemerintahannya.

Karena itu, menurut Hamdi, wajar kalau SBY menjadi lebih sensitif dan mudah marah akhir-akhir ini. Apalagi itu kalau menyangkut citra dirinya dan kekuarganya.

"Wajah kalau dia (SBY-red) menjadi lebih sensitif dan mudah marah. Apalagi jika menyangkut citra diri pribadi dan keluarganya. Dia mudah sekali reaktif dan bereaktif secara berlebihan," tuturnya.

Hal ini bisa dilihat, ketika Presiden emosi saat menggelar konferensi pers di Halim Perdanakusuma terkait masalah Bunda Putri. Namun, tidak emosional saat persoalan TKI/TKW yang sedang bermasalah di luar negeri dan masalah bangsa dan rakyat lainnya.

"Ini juga banyak orang keluhkan, tercatat ya, dia lebih banyak marah jika berkaitan dengan diri pribadi dan keluarganya," katanya.

Hamdi lalu memberi sejumlah catatan peristiwa yang membuat SBY bereaksi yang dinilai berlebihan.

"Ini hanya beberapa contohnya ya, ketika melihat ada orang yang tertidur sewaktu beliau berpidato, ketika mic (microphone) yang akan beliau pakai untuk berpidato tidak berfungsi, ketika namanya ditulis di tubuh kerbau, terus ketika dirinya dikait-kaitkan memiliki hubungan khusus dengan bunda Puteri, dan ketika Ibas dituduh menerima aliran uang Hambalang," dia mencontohkan.

Selain itu, kelelahannya menghadapi konflik di internal Partai Demokrat, khususnya terkait organisasi masyarakat (ormas) bentukan Anas Ubaningrum, Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI), juga menjadi salah satu penyebab sikap reaktif dan emosional SBY akhir-akhir ini.

"Dia (SBY) lelah juga menghadapi konflik di internal Partai Demokrat. Dia merasa tidak bisa mengendalikan Anas dan kawan-kawan," ungkap Guru besar Fakultas Psikologi UI ini.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini