News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Penangkapan Terduga Teroris

Fadli Dibunuh karena Dianggap Jadi Informan Densus 88

Penulis: Theresia Felisiani
Editor: Gusti Sawabi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Komisaris Besar Agus Rianto

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Theresia Felisiani

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Penyidikan sementara Polres Poso menyatakan pembunuh sadis petani M. Fadli (50) yang digorok di depan rumahnya di Desa Taunca Padalembara, Kec Poso Pesisir Selatan, Kab Poso, Sulawesi Tengah, Kamis (18/9/2014), adalah kelompok garis keras dari Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso Abu Wardah.

Atas peristiwa itu, Mujahidin Indonesia Timur memberikan pernyataan dalam rilis yang dimuat di Arrahmah.com pada Jumat, 19 September 2014.

Dalam pernyataanya, Mujahidin Indonesia Timur menegaskan pembunuhan terhadap Fadli karena Fadli memberikan informasi kepada Densus 88, sehingga dua anggota Mujahidin Indonesia Timur tewas.

Pihak Polri pun angkat bicara terkait pernyataan tersebut. Kabag Penum Mabes Polri Kombes Pol Agus Rianto meminta masyarakat tidak terprovokasi dengan pernyataan tersebut.

"Tolong jangan dianggap kalau ada masyarakat yang tidak suka dengan kejahatan kemudian mau memberikan info pada Polri, dianggap sebagai mata-mata atau informan," tutur Agus, Minggu (21/9/2014).

Menurut Agus, selama ini Polri banyak dibantu masyarakat sehingga berhasil mengungkap berbagai jenis kejahatan. Dan Polri berharap masyarakat tidak terpancing dengan pernyataan itu.

"Yang pasti mari kita terus bahu membahu dan bersinergi mencegah dan memberantas segal bentuk kejahatan. Tanpa dukungan dan peran serta masyarakat, Polri tidak mungkin bisa mewujudkan harapan masyarakat," tambah Agus.

Sebelumnya, Kapolres Poso Ajun, AKBP Susnadi. Juga membantah M. Fadli adalah seorang petani yang dipergunakan polisi maupun Densus sebagai corong informasi atau mata-mata di wilayah tersebut.

"Soal itu tidak benar. Kami tidak mau korbankan masyarakat hanya untuk itu. Pola intelijen kami tidak mungkin seperti itu," tegasnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini