TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon mengatakan, anggapan yang menyebut Presiden Prabowo Subianto sebagai sosok otoriter adalah pernyataan yang ahistoris.
Ahistoris berarti sikap atau pandangan yang tidak memperhatikan sejarah, berlawanan dengan fakta historis, atau mengabaikan konteks sejarah dalam memahami suatu hal.
Menurut Fadli, Prabowo telah membuktikan kesetiaannya pada jalur demokrasi sejak mengakhiri dinas militer pada tahun 1999.
Baca juga: Eddy Soeparno Dukung Langkah Prabowo Subianto Percepat Transisi Energi
"Saya juga menyertai beliau dan bersaksi kalau ada orang yang mengatakan beliau itu otoriter justru ahistoris. Ahistoris karena Pak Prabowo itu sudah memilih jalan demokrasi dari dulu," kata Fadli di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Fadli menceritakan rekam jejak panjang Prabowo di dunia sipil, mulai dari mengikuti Konvensi Partai Golkar pada 2004 hingga mendirikan Partai Gerindra.
Ia mencatat bahwa Prabowo telah melewati berbagai kontestasi politik dan mengalami kekalahan berkali-kali tanpa pernah meninggalkan koridor demokrasi.
"Berkompetisi di tahun 2009 sebagai calon wakil presiden, kalah, waktu itu saya menjadi sekretaris dari timnya, begitu juga di 2014 maju lagi sebagai calon presiden, 2019 juga maju lagi, kalah lagi. Jadi mengalami empat kali kekalahan gitu ya kalau kita lihat. Itu artinya apa? Pak Prabowo tidak pernah menyerah pada jalan demokrasi," ujar Fadli.
Namun, situasi berbalik pada pemilihan presiden 2024, Prabowo berhasil menang dengan raihan suara 58 persen atau lebih dari 96 juta suara.
"Mungkin angka yang terbesar dalam sejarah Republik Indonesia. Jadi mandat ini adalah satu mandat yang kuat," tegas Menteri Kebudayaan ini.
Ia pun menyentil kalangan intelektual yang masih menyematkan label otoriter kepada Prabowo. Fadli menilai kritik tersebut sering kali datang dari orang yang tidak memahami realitas perjuangan demokrasi di lapangan.
Baca juga: Prabowo Tak Masalah Kena Impeachment: Bung Karno, Pak Harto dan Gus Dur Turun dengan Damai
"Jadi kalau ada seorang yang mengaku intelektual dan mengatakan bahwa Pak Prabowo itu otoriter itu menurut saya ahistoris. Apalagi orang itu mempunyai latar belakang hidupnya itu dari dunia demokrasi," ucapnya.
Fadli mengibaratkan para pengkritik tersebut seperti pengamat sepak bola yang merasa lebih hebat dari pemain, namun tidak pernah turun ke lapangan.
Ia menekankan bahwa Prabowo adalah pelaku demokrasi yang memahami betul sulitnya mencari dukungan dari rakyat, mulai dari tingkat kampung hingga provinsi selama lebih dari 20 tahun.
"Nah kadang-kadang orang yang mengamati itu adalah orang yang tidak tahu permainan. Kalau dalam sepak bola itu pengamatlah gitu ya, non-playing captain. Kadang-kadang dia lebih hebat dari para pemain sepak bola, gitu ya," ungkap Fadli.
Baca tanpa iklan