News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Kasus Pembunuhan Dukun Santet, Upaya Mengadu Domba Gus Dur dengan Megawati

Editor: Johnson Simanjuntak
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

** Local Caption *** Dua Mantan Presiden RI, Gus Dur (Kiri) Dan Megawati Soekarnoputri Memamerkan Buku Pancasila Bung Karno Usai Menerima Buku Itu Dari Sabam Sirait Yang Mewakili Penerbit Faksi Bhinneka Tunggal Ika Di Kediaman Megawati Di Jakarta, Jumat (25/3). Gus Dur Hadir Di Sana Minta Maaf Tidak Bisa Hadir Di Kongres PDI Di Bali Mendatang.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pada 1998, terjadi kasus pembunuhan para dukun santet di Banyuwangi dan wilayah "Tapal Kuda" Jawa Timur.

Gerakan tersebut diindikasikan sebagai gerakan anti-tenung yang merembet menjadi gerakan anti-kiai.

Sejumlah versi muncul terkait kasus yang sudah dinyatakan sebagai pelanggaran hak asasi manusia berat ini.

Salah satunya, motif di balik kasus pembunuhan tersebut adalah untuk mengadu domba antara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).

Dalam buku berjudul Gila Gus DurĀ (2010) terbitan LKIS, penulis Andree Feillard mengungkapkan bahwa pendiri PKB Abdurrahman Wahid alias Gus Dur menyatakan, kasus tersebut merupakan suatu upaya untuk memecah antara dirinya dengan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri.

Gus Dur bertanya, siapa yang diduga mau membunuh para dukun santet. Ia sendiri yang menjawab bahwa pihak yang akan dituduh sebagai pembunuh nantinya adalah para ulama.

Menurut Gus Dur, karena para korban yang diduga para dukun santet, tidak melaksanakan ibadah.

Sehingga, dengan membunuh para dukun santet, akan membangkitkan kemarahan terhadap kiai.

Inilah yang dinilai sebagai cara memisahkan dan bahkan mengadu domba antara PDI-P dengan PKB.

Pada Maret 1999, Gus Dur pernah menyatakan, ia yakin bahwa PDI-P dan PKB bersama-sama akan bisa meraih suara 60 persen.

Namun, Gus Dur tidak yakin Megawati memperoleh cukup suara untuk terpilih menjadi presiden.

Pada September 1999, ketika berada di Paris, Andree Feillard bertemu dengan Gus Dur.

Saat itu Gus Dur menelpon dia di sela kegiatan bertemu dengan mantan Perdana Menteri Perancis, Pierre Mauroy.

Timor Timur menjadi pembahasan utama keduanya. Akan tetapi, pembicaraan internal politik selalu terungkap dengan sendirinya.

"Mega atau saya, sama saja," kata Gus Dur, saat ditanya mengenai calon pemimpin Indonesia pasca-jatuhnya Presiden Soeharto.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini