Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ria Anatasia
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sebanyak 44 wartawan terbunuh pada empat bulan pertama di tahun 2018. Angka ini meningkat 57 persen, dari periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 28 orang. Data tersebut dikeluarkan organisasi PBB berbasis di Jenewa, Press Emblem Campaign (PEC).
"Kami prihatin melihat peningkatan dramatis dari jumlah korban jurnalis di tahun 2018, saat dunia merayakan Hari Kebebasan Pers Dunia pada 3 Mei. Jumlah wartawan yang tewas dari Januari-April telah melonjak sebesar 57 persen dari periode yang sama tahun lalu," kata PEC, seperti dilansir The Nation, Kamis (3/5/2018).
PEC mengaku terkejut oleh kabar kematian sembilan jurnalis dalam peristiwa ledakan bunuh diri ganda di ibukota Afghanistan, Kabul pada 30 April lalu.
Pada kejadian itu, pelaku bom bunuh diri itu menyamar sebagai juru kamera dan meledakan bom maut tersebut.
"Sangat disayangkan serangan teroris keji ini menargetkan para wartawan di antara kerumunan orang banyak," tuturnya.
Menurut data PEC, negara yang paling berbahaya sejak awal tahun ini adalah Afghanistan dengan korban tewas sebanyak 11 orang.
Selanjutnya Meksiko 4 orang, Suriah 4, Ekuador 3, India 3, Yaman 3, dan dua masing-masing di Brasil, Gaza, Guatemala dan Pakistan.
"Menyusul pembunuhan Daphne Caruana Galizia di Malta dan Jan Kuciak di Slovakia, Sekretaris Jenderal PEC Blaise Lempen menyerukan kepada negara-negara untuk mengambil langkah-langkah tambahan untuk melindungi wartawan dengan melakukan penyelidikan independen, ditambah dengan kekuatan menindaklanjut pelaku serta menegakan keadilan di semua tingkatan," kata PEC.
Baca tanpa iklan