News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Pemilu 2019

Kasus Bowo Sidik Terbukti Tak Pengaruhi Elektabilitas Golkar di Pemilu 2019

Penulis: Wahyu Aji
Editor: Johnson Simanjuntak
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Presiden Joko Widodo bersama Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Rabu (17/4/2019)

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Hasil real count sementara Komisi Pemilihan Umum (KPU), perolehan suara Partai Golkar di Pemilu 2019 menempati posisi kedua besar setelah PDI Perjuangan.

Perolehan ini tidak jauh berbeda dari hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei sebelumnya.

Direktur Eksekutif Lembaga Emrus Corner Emrus Sihombing menilai, perolehan suara Golkar di Pemilu 2019 menunjukkan bahwa kasus suap yang menjerat kader Bowo Sidik Pangarso tidak mempengaruhi elektabilitas partai.

"Terbukti hasilnya Golkar tetap dipilih pemilihnya. Artinya, Golkar masih mendapat kepercayaan rakyat untuk menempatkan wakilnya di DPR, DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/ Kota," kata Emrus Sihombing dalam keterangan yang diterima, Rabu (24/4/2019).

Emrus mengatakan, hal ini membuktikan Golkar memiliki pemilih cukup loyal.

"Nampaknya pemilih Golkar mengakar kuat, makanya dia tetap menjadi partai besar sampai sekarang," katanya.

Lebih lanjut Emrus menjelaskan, kasus korupsi dan suap tidak hanya menjerat politikus pada satu partai politik saja, melainkan terjadi di banyak parpol.

Baca: Demonstran Tuntut Bawaslu dan DKPP Nyatakan Pemilu 2019 Curang Secara Nasional

"Kecuali perilaku korup hanya terjadi di partai tertentu. Orang kan melihat di banyak partai, bukan Golkar saja," ujarnya.

Pakar Komunikasi Politik Universitas Pelita Harapan (UPH) ini menjelaskan, terjadi perubahan pola di tengah masyarakat dalam menyikapi politisi yang terjerat korupsi.

Baca: Ketika Panglima TNI Bangun dari Duduk, Sambut Salam Hormat Prabowo Subianto

Menurutnya sebagian masyarakat lebih melihat dari sosok atau partai yang dinilai masih menyejahterakan atau memperjuangkan nasib mereka, meski ada beberapa kadernya terseret korupsi.

"Apakah kemudian masyarakat bermigrasi ke partai baru? Belum tentu juga. Publik sepertinya masih meragukan partai-partai baru," katanya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini