Kendati demikian, perhatiannya pada kesejahteraan masyarakat tidak pernah surut.
Pada 11 Juli 1924, bersama beberapa golongan terpelajar ia mendirikan Indonesische Studie Club (ISC).
ISC bergerak membentuk usaha-usaha yang berguna bagi masyarakat seperti sekolah tenun, bank kredit, koperasi, dan sebagainya.
Tujuannya, tidak lain untuk mempelajari dan memerhatikan kebutuhan rakyat.
ISC ternyata dapat menarik perhatian para cendekiawan, bukan hanya dari cendekiawan Indonesia, tapi juga cendekiawan Belanda seperti Koch dan Tilleman yang berpendirian progresif.
Kedekatannya dengan masyarakat membuatnya diangkat menjadi Dewan Kota (Gemeen-teraad) Surabaya. Namun hal itu tidak berlangsung lama.
Ia mengundurkan diri karena usulannya untuk memperbaiki nasib rakyat selalu kalah oleh suara terbanyak yang tidak berpihak pada rakyat, melainkan pada pemerintah Belanda.
Misalnya ketika ia mengusulkan perbaikan kampung, namun ditolak sedangkan yang diterima adalah usulan menambah kebersihan dan perbaikan rumah orang-orang Belanda.
Sutomo berpikir tidak ada gunanya ia bekerja di Dewan Kota.
Sutomo memilih untuk lebih fokus pada perkembangan ISC. Ia terus melakukan usaha-usha di bidang sosial ekonomi untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat.
Salah satu prestasi yang membanggakan adalah ISC berhasil mendirikan Bank Bumiputera, yang kemudian pada 1929 berganti nama menjadi Bank Nasional.
Ia juga mendirikan Yayasan Gedung Nasional Indonesia (GNI) yang dikerjakan secara swadaya oleh masyarakat, pegawai negeri, swasta, buruh, pedagang, petani, nelayan, hingga seniman.
Pada 1930, ISC berkembang menjadi partai yang dinamai Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). Ketuanya adalah dr. Sutomo sendiri.
Memiliki pandangan moderat, partai ini sangat cepat berkembang, terutama di wilayah Jawa Timur. Berubah menjadi partai, PBI semakin gencar melakukan kegiatan-kegiatan yang berpihak pada rakyat.
Di bidang Pendidikan, PBI merencanakan Sekolah Taman Kanak-kanak, mengusahakan bacaan untuk anak-anak SD, serta memberantas buta huruf.
Baca tanpa iklan