News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Soal Pujian AH Top, Sangat Sumir Jika Presiden Dianggap Memihak

Editor: Hasanudin Aco
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Presiden Joko Widodo memberikan sambutan saat peringatan HUT ke-55 Partai Golkar di Jakarta, Rabu (6/11/2019). HUT ke-55 Partai Golkar yang dihadiri Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin tersebut mengambil tema 'Kreasi Muda Indonesia'. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA  - Pernyataan Presiden Jokowi di acara ulang tahun Golkar beberapa waktu lalu, kerap diterjemahkan secara membabi buta.

Terbaru, Jokowi dianggap memberi "angin" kepada Airlangga Hartarto karena menyebut Golkar di bawa kepemimpinan menko perekonomian tersebut sangat melejit.

Pengamat komunikasi politik Ari Junaedi menilai pola politik restu di era sekarang sangat berbeda dengan era Orde Baru, dimana pernyataan Soeharto dianggap sakral dan menentukan mati hidupnya partai politik.

"Saya tidak melihat dan mengganggap Jokowi terlibat dengan restu merestui siapa yang akan menjadi ketua umum Partai Golkar mendatang. Siapa pun yang menjadi ketua umum, entah Airlangga Hartarto atau Bambang Soesatyo misalnya, Golkar tetap berpihak dan nyaman di tubuh koalisi. Jadi sangat prematur jika menilai pernyataan Jokowi dikaitkan dengan aksi dukung mendukung," ujar Ari Junaedi, Senin (11/11/2019).

Baca : Kabar Buruk Anies, Disebut Tak Punya Sumbangan Apa-apa ke NasDem, Tak Pantas Dicalonkan Pilpres 2024

Baca: Jokowi Tak akan Campur Tangan Soal Pemilihan Calon Ketua Umum Golkar

Dia menganggap Jokowi akan defisit secara politis jika terjebak dengan pemihakan terhadap salah satu kandidat.

Sebab memilih Airlangga dan mencampakkan Bamsoet misalnya, akan sangat tidak strategis karena Bamsoet adalah Ketua MPR.

"Sebaliknya andai Jokowi merestui Bamsoet menjadi pemimpin Golkar akan berdampak fatal mengingat dukungan arus bawah terhadap Airlangga juga tidak bisa dianggap enteng," ungkap Ari Junaedi.

Oleh karena itu, menurut Ari Junaedi, sangat prematur jika pernyataan Jokowi di acara HUT Golkar tersebut dinilai sarat dengan dukungan penuh terhadap Airlangga.

"Sebagai capres yang diusung Golkar sebagai salah satu partai pengusung, Jokowi akan sadar untuk tetap merangkul seluruh kader Golkar yang maju sebagai ketua umum," katanya. 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini