Laporan Wartawan Tribunnews.com, Apfia Tioconny Billy
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kecemasan Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjalankan evakuasi di Natuna mulai bergeser.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan, dr. Achmad Yurianto menyebutkan saat awal kecemasan mereka terkait warga di Natuna yang sempat menolak kehadiran mereka.
“Fase awal mereka cenderung takut melihat penolakan, pemberitaan tentang penolakan di mana-mana, tapi sekarang sudah kondusif,” kata Yuri di Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Senin (10/2/2020).
Kini, setelah kondisi di Natuna sudah kondusif, para WNI yang kebanyakan berstatus sebagai mahasiswa mulai khawatir dengan kondisi perkuliahan mereka.
Terlebih pada 10 mahasiswa yang mengambil jurusan kedokteran di Wuhan, yang seharusnya di semester delapan ini mereka sudah melakukan kuliah praktik.
Sayangnya karena terjadi wabah corona mereka hanya mendapatkan teori saja yang bisa diakses secara online.
“Jadi teorinya dapat tapi praktiknya tidak dapat,” ucap Yuri.
Alhasil mereka khawatir kalau waktu kuliah mereka tidak sesuai dengan rencana alias molor, mengingat masa karantina yang belum berakhir.
“Mereka menyampaikan kekhawatiran kuliah akan molor, karena Wuhan kemungkinan akan di-lockdown mungkin sampai satu semester,” kata Yuri.
Beberapa juga khawatir jika nantinya ada larangan kembali le Wuhan dari pihak keluarga yang khawatir kondisi mereka di sana.
“Satu dua mulai mengkhawatirkan kalau sudah ketemu keluarga di rumah, kira-kira boleh tidak balik lagi ke wuhan untuk kuliah, kekhawatiran orang tua ini sudah mereka bayangkan,” ucap Yuri.
Untuk mengatasi kecemasan tersebut, pemerintah juga telah menyiapkan tim psikologi yang dapat membantu mereka mengatasi kecemasan.
“Kita datangkan tim psikologi untuk memberikan pendampingan, ini problelm dominan yang muncul di mereka,” kata Yuri.
Sekadar informasi, 238 WNI dievakuasi dari Provinsi Hubei, China karena wabah novel corona virus yang terus mengkhawatirkan hingga mengkarantina 15 kota di provinsi tersebut.
Usai dievakuasi mereka harus menjapankan proses observasi di Natuna untuk memastikan kondisi mereka dari virus yang telah menyebar ke lebih dari 20 negara itu.
Berkuliah secara online
Kondisi kesehatan 238 Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjalani masa observasi di Hanggar Lanud Raden Sajad dikabarkan terus membaik.
Bahkan, dengan akses dan ruang terbatas ratusan WNI yang di antaranya berstatus mahasiswa itu kini sudah menjalani aktivitas perkuliahaan online sebagaimana aktivitas kampus di balik komplek hanggar.
Baca: Pakar Kesehatan Internasional Diterbangkan ke Cina Bantu Penanganan Virus Korona
Dalam cuplikan video yang dikirim Humas Kemenkes Lukman Dede kepada Tribun, Senin (10/02/2020) terlihat aktivitas mahasiswa warga observasi tengah mengerjakan perkuliahaan online.
"Ada yang lagi kelas perkuliahaan online pak, kita lagi berusaha masuk ke kelas online," ujar seorang peserta observasi sembari memainkan gadgetnya.
Ia pak kuliah online, karena virus kuliahnya sekarang masuk online.
Jadi ngerjain tugas dari online, sahut beberapa mahasiswa itu saat ditanyakan oleh dokter Budi.
Untuk diketahui, dr. Budi Sylvana MARS viral sepekan terakhir lantaran setiap unggahan video diperankan oleh Budi.
Ia merupakan Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI it
Bahkan seorang WNI yang menjalani masa observasi, Nathania saat dihubungi Tribun, Senin (10/02/2020) menyebutkan bahwa saat ini mereka sedang disibukkan aktivitas perkuliahan.
"iya kak, kami sudah pada mau kuliah, belajarnya online," ucap dia saat dihubungi.
Nathania merupakan seorang pelajar mahasiswa di Universitas Normal Huazhong, berlokasi di Komunitas Universitas Normal Tiongkok Tengah, Kecamatan Luonan, Distrik Hongshan di Wuhan, ibukota Provinsi Hubei.
Tidak hanya Nathania, seorang warga observasi Sylvaniacarsila juga mengaku sudah menjalani proses kuliah online.
"Ada beberapa kampus yang mulai online belajarnya," tulis Sylva dalam pesan whassapnya.
Baca tanpa iklan