Cara itu adalah pengelolaan penerbitan yang lebih dekat dengan pembaca dan pelanggan. ”Bukan apa yang penerbit atau wartawan mau, tetapi apa yang pembaca mau,” kata Jakob.
Kelincahan mengadopsi media baru, seperti internet, juga menjadi langkah penting yang harus dipahami, media baru dan segala macam turunannya harus disikapi secara positif-kreatif, bukan sekadar negatif-menolak.
Itu semua adalah gagasan Jakob tentang bagaimana mengarungi lautan krisis pada awal Reformasi dulu—yang ternyata masih tetap relevan 20 tahun kemudian.
Namun, Jakob mengingatkan bahwa segala gagasan itu tidak akan bisa tumbuh apabila ”tanahnya” tidak subur. Tanah itu adalah kebebasan dan kemerdekaan pers, baik untuk hari ini maupun masa yang akan datang.
”Kita masih berada dalam terowongan, tetapi sinar cahaya berpijar, yakni kebebasan; kebebasan pers. Pandai-pandailah kita memelihara serta menyuburkannya. Bagi para penerbit, masyarakat pers, dan media massa, kebebasan merupakan modal yang menjadi jaminan, napas, serta lingkungan hidup kita,” ujarnya menutup tulisan yang ditulisnya pada 1998 tersebut.
Kini pertanyaan, sampai berapa lama masyarakat Indonesia dan pemerintahnya masih betah berada di dalam terowongan yang gelap ini?
Berita ini tayang di Kompas.id dengan judul: Jakob Oetama dan Kebebasan Pers
Penulis: SATRIO PANGARSO WISANGGENI/KOMPAS.ID
Baca tanpa iklan