News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Gempa di Sulawesi Barat

Belajar Fenonema dan Dampak Kerusakan Bangunan dari Gempa Sulbar

Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Johnson Simanjuntak
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Sejumlah warga bergotong royong mengangkat sembako yang di distribusikan oleh TNI Angkatan Laut menggunakan Heli Anti Kapal Selam (AKS) AS565 MBe Panther di Dusun Tauban, Desa Kopeang, Kecamatan Tapalang, Kabupaten Mamuju, Sulbar, Selasa (26/1/2021) siang. Desa Kopeang merupakan desa yang terisolir akibat gempa dan longsor Sulbar sehingga hanya bisa diakses menggunakan Heli. Diketahui bantuan sembako yang diangkut oleh Heli buatan Prancis itu sebarat 700 kilogram yang terbang dari KRI dr Soeharsono di Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Mamuju. (TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR)

Analisis kerusakan pada bangunan tampak ada kerusakan, seperti pada area sambungan balok kolom dan dilatasi. Dilatasi merupakan sambungan atau pemisahan pada bangunan, yang berfungsi menghindari terjadinya keretakan atau putusnya sistem struktur bangunan apabila terjadi beban pada bangunan. 

Menurut Guru Besar Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB Iswandi Imran, faktor kerusakan bangunan tertentu dipengaruhi acuan terhadap building code yang mengacu pada SNI 2002 atau sebelumnya. 

Ia mengatakan, seismic detailing yang terpasang kemungkinan besar tidak memadai untuk zona gempa tinggi. 

Seismic detailing biasanya diperhatikan dalam struktur bangunan, khususnya pada bagian balok dan kolom untuk mempertahankan kekuatan apabila terjadi guncangan. 

Imran menyampaikan, strategi jangka panjang untuk mitigasi risiko pada bangunan yang ada perlu dikaji ulang serta di retrofit agar dapat menahan kejadian gempa besar yang mungkin terjadi. 

“Perlu disusun peta kerentanan atau risiko bangunan, khususnya bangunan hunian, di wilayah Sulbar,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa perancangan bangunan baru agar dilakukan secara konsisten dengan mengacu pada SNI gempa dan SNI detailing terkini. Ini akan berpengaruh terhadap dampak, baik korban jiwa maupun kerusakan bangunan. 

Sedangkan jangka pendek, Imran mengatakan, perlu disepakati level hazard gempa relevan, yang dapat digunakan untuk mengevaluasi bangunan-bangunan penting eksisting, khususnya yang direncanakan berdasarkan SNI 2002.

Hal ini perlu dilakukan dalam masa tanggap darurat mengingat bangunan yang ada kemungkinan belum diberi seismic detailing yang memadai pada zona gempa tinggi.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini