Dia mengajarkan keahliannya itu di rumah terduga teroris lainnya berinisial HH di Condet, Jakarta Timur.
"Saya mengajarkan cara pembuatan TATP tersebut kepada HH, Jery, Malik, Naufal dan Bang Jun di rumah HH di garasi," jelas dia.
Di sisi lain, Zulaimi mengaku tergabung dalam organisasi Front Pembela Islam (FPI) di salah satu kantor DPC di wilayah Kabupaten Bekasi.
"Saya bergabung dengan organisasi FPI tahun 2019 di wilayah DPC Serang Baru Kabupaten Bekasi sebagai wakadiv jihad.
Saya bergabung dengan majelis Yasin Walatif diajak oleh Bambang alias Abi dikenalkan HH," ujar dia.
Terduga Teroris di Klaten yang Ditangkap Ternyata Berpendidikan Tinggi dan Kerap Beri Ceramah Warga
Sementara itu, sosok terduga teroris di Desa Bono, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah ternyata kerap memberikan ceramah pada warga.
Terduga teroris berinisial S (51) itu sempat menempuh pendidikan tinggi di Jogja.
"Pekerjaannya pendakwah, kesehariannya biasa, khotbahnya tidak ekstrim, biasa saja" kata Kepala Desa Bono, Bakdiyono kepada TribunSolo.com, Sabtu (3/4/2021).
S sempat menempuh kuliah di Jogja dan merantau ke Padang, Sumatera Barat sebelum akhirnya pulang ke Desa Bono.
"Semenjak ayahnya meninggal dunia, ia balik ke Desa Bono. Sudah tinggal di sini selama tiga tahun" ucap dia.
Setelah pulang kampung, S kemudian mendirikan Tempat Pendidikan Qur'an (TPQ). Tempat tersebut dikelola oleh istri dan anak-anaknya.
"Istrinya mengajar ngaji di TPQ," ujar dia.
Istri Sempat Tak Tahu
Sebelumnya, seorang berinisial S (51), warga Desa Bono, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten ditangkap tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror.
Baca tanpa iklan