"Misalnya, tidak akan ada koreksi atas multi jabatan yang diemban oleh pak Luhut Binsar Pandjaitan. Pejabat yang paling banyak mendapat sorotan dari PDIP," katanya.
Adakah Pembicaraan Menuju 2024?
Pengamat komunikasi politik Universitas Paramadina Hendri Satrio mengungkap Megawati dirasa memang perlu memperbaiki hubungan serta mendekatkan diri kembali dengan Jokowi.
Sebab, tak dipungkiri Jokowi masih memiliki peran besar dalam perhelatan politik di 2024 mendatang.
"Saya rasa perlu ibu Megawati untuk memperbaiki. Aaya rasa alasannya ada dua hal. Pertama penanggulangan Covid-19, yang kedua adalah 2024 pastinya. Karena sebagai penguasa pak Jokowi masih memiliki kekuatan untuk mengarahkan atau minimal mempopulerkan calon," ujar Hendri.
Berbeda dengan Hendri, pengamat politik Universitas Indonesia Ari Junaedi menduga pertemuan Jokowi dan Megawati sama sekali tak membicarakan persoalan 2024. Melainkan lebih kepada persoalan penanganan pandemi.
"Pertemuan antara Jokowi dengan Megawati kerap terjadi tanpa diketahui pihak luar sebetulnya. Saya paham betul dengan gesture Megawati karena lama mendampingi beliau. Saya pastikan tidak ada pembicaraan terkait suksesi 2024. Ibaratnya Belanda masih jauh," ujar Ari.
Ari merujuk pada pernyataan Megawati yang menyatakan keprihatinannya terkait kritik-kritik yang masih diterima mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut perihal penanganan pandemi.
"Terbukti dalam pernyataan Megawati usai pertemuan dengan Jokowi tersebut, Megawati menyatakan keprihatinannya terkait masih adanya pihak-pihak yang menyudutkan Jokowi dalam penanganan pandemi," katanya.
"Pandemi adalah persoalan dunia, tidak ada negara satupun yang kebal dengan wabah corona termasuk AS sekalipun yang dinobatkan sebagai negara adidaya. Justru Megawati menyatakan dukungannya kepada Jokowi untuk tetap istiqomah dalam perjuangan menangani pandemi covid," tandasnya. (vjc)
Baca tanpa iklan