TRIBUNNEWS.COM - Pengamat Kebijakan Publik, Trubus Rahadiansyah, menanggapi terkait ramainya dugaan permainan karantina yang kini ramai dibicarakan.
Ia menilai terjadinya permainan karantina dan sejumlah pelanggaran terkait aturan Covid-19 sangat masif.
Trubus pun menyayangkan mengapa permainan karantina di Indonesia, masih ditemukan.
"Misalnya, Pekerja Migran Indonesia ditawari (membayar) Rp4,5 juta agar bisa langsung kembali ke rumah (tanpa karantina)."
"Iya (kasus permainan karantina di Indonesia) ini sangat masif, karena semua elemen ada, seperti unsur keamanan, Kementerian Kesehatan, dan Satgas Covid-19," kata Tribus dalam wawancara Kompas TV, Selasa (1/2/2022).
Apalagi, kata Trubus, masalah ini mendapatkan perhatian Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Baca juga: Tips Dari Dokter Melawan Covid-19 untuk Pasien Isoman: Tidur, Puasa, Kurangi Asupan Karbohidrat
Baca juga: Positif Covid-19, Naysila Mirdad Akui Sempat Anggap Omicron Lebih Lemah dan Longgarkan Prokes
"Apalagi sudah sampai ke telinga Presiden, ini kan memalukan sekali."
"Ini menjadi potret buruk bagaimana tata kelola terkait karantina di Indonesia."
"Karena kejadian (permainan karantina) ini berulang-ulang," sambung Trubus.
Menurut Trubus, tiga hal yang yang mungkin dapat memicu adanya permainan karantinya, yaitu:
1. Sistemnya yang memang memberikan celah untuk melakukan pelaanggaran-pelanggaran.
2. Dari sisi kebijakan yang sering berubah-ubah. Seringkali orang (petugas) di lapangan tidak mengetahui adanya perubahan kebijakan.
3.Terkait dengan integritas dan moralitas petugas di lapangan
"Jadi tiga jal itu yang menyebabkan buruknya tata kelola karantina dalam hal penanganan Covid-19 di Indonesia," jelas Trubus.
Baca juga: Indonesia Masuk Gelombang Ketiga Covid-19, Pemerintah Siapkan 120 Ribu Tempat Tidur
Oleh karena itu, perlu adanya perbaikan yang dimulai dari tempat karantina, khususnya tempat karantina di hotel.
Baca tanpa iklan