Gejala Antraks pada Hewan
Direktur Kesehatan Hewan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian drh. Nuryani Zainuddin mengatakan, gejala klinis antraks pada hewan berupa demam tinggi pada awal infeksi, gelisah, kesulitan bernapas, kejang, rebah, dan berujung kematian.
Dikutip dari laman Kementerian Kesehatan, gejala lain yang biasa terjadi seperti perdarahan di lubang hidung dan mulut hewan.
Tidak jarang hewan ternak mengalami kematian mendadak tanpa menunjukkan gejala klinis.
"Hewan yang mati akibat penyakit ini perlu dibakar atau dikubur untuk mencegah penularan. Tidak boleh dibedah atau disembelih," ucapnya.
Cara Mencegah Antraks
Ada beberapa pencegahan yang dapat dilakukan terhadap hewan ternak, yaitu melalui vaksinasi, melakukan kontrol lalu lintas hewan ternak, dan tindakan disposal pada hewan terinfeksi.
Selain itu, ada cara lain untuk mencegah antraks, yakni:
1. Ternak yang terkena anthrax harus diasingkan untuk mendapatkan pengobatan oleh petugas sehingga tidak dapat berhubungan dengan ternak yang sehat.
2. Dilarang menyembelih hewan yang sakit untuk memakan dagingnya
3. Di dekat tempat pengasingan (kandang) digali lubang sedalam 2,5 meter untuk menampung sisa makanan dan tinja dari kandang-kandang ternak sakit.
4. Setelah lubang terisi makanan dan tinja sedalam 60 cm, lubang tersebut harus ditimbun dengan tanah baru.
5. Terhadap ternak yang sehat tetapi berapa didaerah kasus penyakit atau terancam dilakukan vaksinasi anthrax setidaknya setahun sekali.
6. Bangkai hewan yang mati karean anthrax harus segera dibakar habis atau dikubur dalam-dalam agar tidak dimakan burung/hewan pemakan bangkai.
(Tribunnews.com, Widya)
Baca tanpa iklan