News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Hari Keluarga Nasional

Kepala BKKBN Sebut Harganas Sebagai Momentum Refleksi Peran Penting Keluarga

Penulis: Fahmi Ramadhan
Editor: Adi Suhendi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo dalam peringatan Harganas 2023 di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Kamis (6/7/2023).

Laporan wartawan Tribunnews.com, Fahmi Ramadhan

TRIBUNNEWS.COM, PALEMBANG - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan Hari Keluarga Nasional (Harganas) merupakan momentum untuk merefleksikan peranan penting keluarga.

Sebab menurut eks Bupati Kulonprogo itu keluarga merupakan pondasi utama dalam menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas.

"Dalam rangka memperingati Harganas ini saya ingin mengajak seluruh kelaurga di Indonesia untuk menjaga kualitas keluarga dan anak-anak kita agar dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal," ucap Hasto dalam peringatan Harganas 2023 di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Kamis (6/7/2023).

Lebih lanjut Hasto menyatakan, ada dua amanah yang diberikan kepada BKKB yakni menjaga pertumbuhan penduduk yang seimbang dan menjaga kualitas penduduk. Menurutnya tantangan tidak hanya untuk menekan jumlah kelahiran.

"Tantangan penting selanjutnya adalah sebagian provinsi zero growth dan ada provinsi dengan jumlah anak yang banyak," ujarnya.

Baca juga: Tekan Prevalensi Stunting, Charles Honoris dan BKKBN Sosialisasi Pencegahan Stunting

"Fokus lainnya adalah penurunan stunting. Untuk itu tema Harganas kali ini adalah menuju keluarga bebas stunting untuk Indonesia maju," tambahnya.

Selanjutnya Hasto menyebut tren pernikahan di usia yang lebih dewasa meningkat. Rata-rata 22 tahun untuk perempuan.

"Perceraian dan brokenhome juga merupakan tantangan baru," ucapnya.

Keluarga Dianggap Jadi Elemen Penting Cegah Stunting

Sebelumnya diberitakan, merujuk data statistik Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) tahun 2020 tercatat lebih dari 149 juta atau 22 persen populasi bayi di seluruh dunia mengalami stunting.

Jumlah tersebut dijelaskan Ma'ruf dimana sebanyak 6,3 juta merupakan bayi Indonesia yang mengalami stunting.

Baca juga: BKKBN Sebut Angka Lansia di Indonesia Mencapai 22,6 Juta Jiwa

"Menurut Unicef stunting disebabkan anak kekurangan gizi dalam dua tahun usianya, ibu kekurangan nutrisi saat kehamilan dan sanitasi yang buruk," jelas Maruf Amin.

Adapun saat ini tingkat prevelensi atau percepatan pengurangan stunting telah berada di angka 21,6 persen dengan target 14 persen pada tahun 2024 mendatang.

Oleh sebabnya dijelaskan wapres, guna mencapai target tersebut perlu adanya kerja sama dari semua pihak terutama dimulau dari elemen paling kecil yakni keluarga.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini