News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Wajib Militer Bagi Pelajar Nakal

Dikritik Rocky Gerung, Dedi Mulyadi: Lebih Baik Punya Pikiran Dangkal tapi Lahirkan Hamparan Tanaman

Penulis: Galuh Widya Wardani
Editor: Pravitri Retno W
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

DEDI MULYADI - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat diwawancarai di Gedung DPRD Kota Sukabumi, Kamis (10/4/2025). Foto TribunJabar.id/Dian Herdiansyah. Dedi Mulyadi menanggapi kritikan dari pengamat politik Rocky Gerung.

TRIBUNNEWS.COM - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menanggapi kritikan dari pengamat politik Rocky Gerung yang ditujukan kepada dirinya.

Diketahui, Rocky Gerung menilai Dedi Mulyadi memiliki pemikiran dangkal.

Menanggapi hal itu, Dedi Mulyadi membalasnya dengan kalimat santai dan singkat.

"Saya memilih menjadi orang yang berpikiran dangkal, namun melahirkan hamparan tanaman."

"Daripada orang yang mengakui pikirannya dalam malah membuat banyak orang tenggelam," kata Dedi Mulyadi dalam unggahan Instagramnya, @dedimulyadi71 pada Jumat (23/5/2025).
 
Dedi Mulyadi tak menjawabnya dengan sikap serius.

Justru, tanggapan itu disampaikannya sembari olahraga jalan pagi di tengah hamparan sawah.

Ia menunjukkan diri seolah tidak menganggap kritikan Rocky Gerung tersebut sebagai masalah.

"Pagi semuanya kita hadapi berbagai kritik dengan senyuman,"

"Salam sehat bahagia selalu. Dengan melangkah hidup akan menjadi berkah," imbuh Dedi Mulyadi.

Kritikan Rocky Gerung

Baca juga: Rocky Gerung Kutip Berbagai Teori demi Hajar Dedi Mulyadi, Balasannya Justru Kalimat Sederhana Ini

Sebelumnya, Rocky Gerung mengutip berbagai teori untuk mengkritik Dedi Mulyadi.

Ia menyoroti gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi yang dinilai hanya menjual penampilan visual, alih-alih visi yang mendalam.

Pengamat politik itu bahkan menyamakan gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi mirip dengan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).

Rocky Gerung pun mengutip teori Guy Debord dalam buku The Society of the Spectacle (1967) yang menjelaskan masyarakat saat ini lebih suka mengonsumsi penampilan dangkal dibandingkan gagasan mendalam.

Menurutnya, masyarakat saat ini adalah "masyarakat yang doyan nonton kedangkalan".

"Jadi kita lagi menonton orang jualan komoditas yang namanya penampilan. Visualisasi, bukan visi."

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini