News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Premanisme Bukan Sekadar Ormas Tapi Soal Kebutuhan Dasar Manusia untuk Hidup

Penulis: willy Widianto
Editor: Acos Abdul Qodir
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

BERANTAS PREMAN - Tersangka premanisme ditunjukan saat rilis di Polda Riau, Kamis (15/5/2025). Sebanyak 169 orang ditetapkan sebagai tersangka berbagai tindak criminal berbau premanisme. TRIBUNNEWS/HO/HUMAS POLDA RIAU

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Premanisme di Indonesia kerap dipandang sebagai ancaman keamanan atau dikaitkan langsung dengan organisasi masyarakat (ormas). 

Namun, dalam diskusi publik yang digelar di Tangerang, Banten, Ketua Presidium Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia (JARI) 98, Willy Prakarsa memaparkan sudut pandang berbeda terkait akar dari persoalan ini. 

Menurutnya, premanisme tidak semata-mata lahir dari struktur organisasi tertentu, melainkan merupakan refleksi dari tekanan sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat.

Willy menyoroti bahwa penggunaan istilah "premanisme" sering kali tidak memiliki pijakan hukum yang jelas. Ia mengingatkan bahwa pelabelan terhadap individu atau kelompok dengan istilah tersebut berisiko menimbulkan tafsir subjektif yang dapat disalahgunakan. 

“Premanisme bukan sekadar soal ormas, tetapi lebih kepada kebutuhan dasar manusia untuk bertahan hidup. Ketika seseorang kehilangan pekerjaan dan tidak memiliki alternatif, mereka akan mencari cara lain untuk mendapatkan uang, termasuk melalui aktivitas yang dianggap premanisme,” ujarnya dalam keterangannya, Selasa (3/6/2025).

Baca juga: Polri Ajak Masyarakat Tangkal Radikalisme dan Terorisme di Tengah Tantangan Era Digital

Dalam beberapa tahun terakhir, peningkatan pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah sektor industri telah berdampak langsung terhadap kestabilan sosial. Ribuan orang kehilangan sumber penghasilan, dan sebagian dari mereka terdorong untuk mengambil jalan singkat demi memenuhi kebutuhan harian.

Willy menekankan bahwa kondisi ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan tindakan hukum atau pembubaran kelompok-kelompok tertentu.

Menurutnya, solusi jangka panjang terletak pada penciptaan lapangan kerja dan perluasan akses ekonomi yang merata. Ketika masyarakat tidak memiliki kesempatan untuk bekerja secara layak, maka munculnya praktik-praktik informal yang dianggap sebagai premanisme menjadi sulit dihindari. 

Baca juga: Istana: Presiden Prabowo Instruksikan Berantas Aksi Premanisme

Ia menyampaikan bahwa tanpa intervensi kebijakan yang berpihak pada pembukaan akses usaha dan penyediaan pekerjaan, fenomena ini akan terus berkembang.

"Jika pemerintah serius ingin menghapus premanisme, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuka lapangan kerja dan memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan penghasilan yang layak," tegas Willy.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini