News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tanggapi Pernyataan Menkes, Dicky Budiman: Dokter Waspada AI Bukan Berarti Anti Inovasi

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ahli Epidemiologi Indonesia dan Peneliti Pandemi dari Griffith University, Dicky Budiman.

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Munculnya berbagai inovasi berbasis kecerdasan buatan (AI) dalam bidang kesehatan menuai beragam respons. 

Tidak sedikit kalangan medis yang menyambutnya dengan antusias, namun tak jarang pula yang bersikap hati-hati. 

Baru-baru ini Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dapat menjadi pendamping penting bagi dokter dalam melakukan tindakan medis, termasuk operasi bedah.

Ia juga menyebut dokter yang memusuhi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) akan terbelakang atau tertinggal dari kemajuan teknologi.

Baca juga:  Menteri Kesehatan: Skrining Kesehatan Gratis Direncanakan Mulai Februari 2025

Ahli Kesehatan Global dan Sistem Rumah Sakit, sekaligus Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, menanggapi pernyataan tersebut. 

Dicky mengatakan bahwa tidak adil jika pihak yang menyuarakan kehati-hatian dianggap menolak kemajuan. 

Ia menekankan pentingnya membangun narasi yang tidak menyederhanakan tantangan implementasi AI.

“Karena sekali lagi AI ini juga banyak tantangannya ya dalam pengembangan maupun apalagi implementasinya. Dan banyak dokter yang bukan sebetulnya memusuhi AI tapi mereka menuntut kehati-hatian, transparansi, dan etika dalam implementasinya," ungkap Dicky pada keterangan, Kamis (17/7/2025).

"Jadi ini saya kira ya wajar dan ini adalah sikap ilmiah dan profesional,” imbuh Dicky. 

Dicky menyampaikan bahwa AI memiliki potensi besar untuk membantu dunia kedokteran.

Seperti dalam bidang pembedahan yang menggunakan robot berteknologi AI, sebagaimana telah diterapkan di rumah sakit-rumah sakit modern di China. 

Namun, ia menegaskan bahwa peran utama tetap harus dipegang oleh dokter manusia.

“Jadi semua itu adalah bentuk argumentasi atau peningkatan kemampuan manusia, tapi bukan substitusi. Jadi dokter tetap menjadi pengambil keputusan utama dalam konteks itu,” tegasnya.

Ia juga menyoroti isu regulasi yang harus segera disiapkan. 

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini