News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Program Makan Bergizi Gratis

Program MBG di Malaysia Lebih Dulu Sukses, MBG di Indonesia Perlu Evaluasi

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

GELOMBANG 2 KERACUNAN - Kondisi siswa yang mengalami keracunan MBG saat dirawat di GOR Kecamatan Cipongkor, Bandung Barat, Rabu 24 September 2025./Rahmat Kurniawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang ramai diperbincangkan menuai pro dan kontra setelah kasus keracunan massal di sekolah. 

Ribuan anak jatuh sakit setelah menyantap hidangan yang seharusnya menyehatkan.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Piprim Basarah Yanuarso, menyampaikan keprihatinannya.

Menurutnya, kasus ini perlu dipahami secara tepat agar tidak terjadi kesalahpahaman publik.

“Kemarin sempat beredar anggapan bahwa ini karena alergi makanan gitu ya. Nah, tentu saja berbeda antara alergi dengan keracunan. Kalau terjadi korbannya serentak dan masal, sesudah makan makanan yang sama, ini bisa kita pastikan bahwa ini adalah sebuah fenomena keracunan makanan,” tegasnya pada media briefing virtual, Kamis (25/9/2025). 

Belajar dari Malaysia: Program Sejak 1979

Menariknya, tetangga dekat Indonesia sudah lebih dulu menerapkan kebijakan serupa. 

Hal ini disampaikan oleh dr Piprim pada kesempatan yang sama. 

Baca juga: Puluhan Siswa di Cianjur Keracunan MBG, Guru yang Ikut Cicipi Tempe Muntah-muntah

Baca juga: Keracunan MBG Terus Terjadi, Pemerintah Diminta Segera Evaluasi Total

Malaysia sejak 1979 memiliki Rancangan Makanan Tambahan (RMT), sebuah program makan bergizi yang diperuntukkan bagi pelajar miskin dan anak-anak disabilitas.

Tidak seperti di Indonesia yang diarahkan untuk semua anak sekolah, RMT di Malaysia fokus pada kelompok rentan. 

Program itu bahkan diperluas pada 2019 untuk mencakup pelajar sangat miskin, anak-anak dari masyarakat adat, serta anak-anak difabel.

Keberhasilan RMT di Malaysia terbukti nyata. Selain meningkatkan status gizi, juga mampu mendongkrak prestasi akademik siswa dan memperkuat dukungan publik terhadap sekolah.

Lebih lanjut, dr Piprim mengingatkan, niat baik pemerintah lewat MBG tidak boleh menimbulkan risiko baru bagi kesehatan anak.

“Bagi kami, satu korban anak keracunan itu sudah sesuatu yang besar, apalagi ribuan. Maka itulah butuh penanganan yang sistematis untuk mencegah bagaimana supaya keracunan ini tidak terjadi lagi,” ujarnya.

Evaluasi menyeluruh diperlukan, mulai dari rantai distribusi bahan, pengolahan makanan, hingga pengawasan di sekolah. 

Program bergizi yang mulia ini semestinya membawa manfaat, bukan menambah derita anak-anak.

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini