News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Kementerian Pertanian Pastikan Cadangan Beras Pemerintah Aman

Penulis: Igman Ibrahim
Editor: Muhammad Zulfikar
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PRODUKSI BERAS NASIONAL - Produksi beras nasional tahun 2025 menunjukkan lonjakan signifikan dan mendekati proyeksi lembaga internasional seperti Food and Agriculture Organization (FAO) dan United States Department of Agriculture (USDA). Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi beras Januari–November 2025 mencapai 33,19 juta ton, naik 12,62% dibanding periode yang sama 2024 (29,47 juta ton).

Ringkasan Berita:

  • Stok cadangan beras pemerintah dalam kondisi aman
  • Pemerintah terus melakukan operasi pasar untuk menjaga stabilitas harga
  • Kenaikan harga beras yang terjadi di pasar saat ini hanya berkisar antara Rp200 hingga Rp300


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Yudi Sastro memastikan bahwa stok cadangan beras pemerintah dalam kondisi aman.

Ia menyebut kenaikan harga beras yang terjadi di pasar saat ini hanya berkisar antara Rp200 hingga Rp300 per kilogram.

Baca juga: Kementan: Indonesia Surplus Beras 4 Juta Ton, Swasembada Tetap Jadi Prioritas

“Sekarang ini memang begitu, cadangan beras pemerintah banyak, kemudian juga produksi cukup bagus. Ada kecenderungan peningkatan harga, tapi sebagian besar masyarakat sebenarnya tidak masalah,” kata Yudi dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumat (17/10/2025).

Ia menegaskan bahwa pemerintah terus melakukan operasi pasar untuk menjaga stabilitas harga.

Namun, fenomena di lapangan menunjukkan bahwa permintaan masyarakat terhadap beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) saat ini tidak sepadat awal tahun 2024.

“Pagi tadi perintah Pak Menteri juga demikian, ke pasar. Animo memang tidak seperti yang kita alami di Januari 2024. Kalau waktu itu memang kita kekurangan beras, di mana ada isu penyaluran, orang berbondong-bondong datang. Kalau sekarang memang di warung banyak, di rumah tangga juga banyak,” ujarnya.

Menurut Yudi, salah satu penyebab berkurangnya minat masyarakat terhadap beras SPHP adalah persepsi psikologis bahwa beras itu merupakan bantuan pemerintah.

Padahal, sebenarnya program itu berbentuk subsidi harga untuk stabilisasi pasar.

“Mindset orang dulu, ‘wah jangan SPHP’, padahal ini subsidi sebenarnya. Kalau tadi bisa yang merah putih, yakin orang ini beras kualitas bagus. Jadi ini mungkin juga perlu inovasi-inovasi seperti itu agar masyarakat lebih percaya bahwa ini beras bukan beras kasihan pemerintah,” jelasnya.

Baca juga: Harga Pangan Hari Ini, 16 Oktober 2025, Beras Premium dan Cabai Rawit Kompak Naik

Yudi juga mengungkapkan bahwa di beberapa daerah seperti Cianjur dan Sukabumi, penyaluran beras SPHP tidak terserap karena masyarakat tengah menikmati hasil panen lokal.

“Saya kebetulan waktu itu di Cianjur dan Sukabumi, saya tanya Kadis, tercapai target nggak hari ini? Katanya enggak, karena di sini lagi panen. Jadi ngapain lagi orang beli, mereka punya sendiri,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa fenomena ini menunjukkan bahwa ketersediaan beras di tingkat rumah tangga dan pasar masih cukup kuat, meskipun ada kenaikan harga di kisaran ratusan rupiah.

“Yang penting berasnya ada dan kualitasnya baik. Kenaikan Rp200 atau Rp300 itu sebagian besar masyarakat tidak masalah,” pungkasnya.

 

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini