TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto telah melakukan reshuffle atau merombak kabinetnya sebanyak tiga kali dalam satu tahun pemerintahannya, sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 20 Oktober 2024.
Reshuffle kabinet sendiri merupakan sebuah perombakan yang dilakukan dengan memindahkan seorang menteri dari satu posisi ke posisi yang lain.
Selain itu, reshuffle kabinet dapat pula diartikan sebagai pergantian menteri baru dari menteri yang lama usai dilakukan evaluasi terhadap kinerjanya.
Wakil Ketua Umum DPP PAN Eddy Soeparno menegaskan, bahwa presiden lebih mengetahui pos kementerian mana yang perlu penguatan.
"Ini sepenuhnya merupakan kedaulatan bapak presiden, bapak presiden paling tahu kira-kira siapa saja tim-tim yang pembantunya yang memang perlu dilakukan penguatan," kata Eddy di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (20/10/2025).
Eddy meyakini reshuffle yang dilakukan presiden, untuk meningkatkan kinerja kabinet.
"Agar pencapaian-pencapaian yang saat ini sudah dihasilkan itu masih makin cepat lagi, bisa kita menghasilkan pencapaian lebih tinggi," ucap Wakil Ketua MPR RI itu.
Reshuffle Pertama
Untuk diketahui, Presiden Prabowo Subianto melakukan reshuffle kabinet untuk pertama kalinya pada 19 Februari 2025.
Saat itu, Satryo Soemantri Brodjonegoro yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) harus diganti.
Kemudian, Presiden Prabowo menunjuk Brian Yuliarto untuk melanjutkan tugas Satryo Soemantri Brodjonegoro.
Adapun Satryo sebelumnya viral di media sosial lantaran rekaman suara yang diduga dirinya tengah memarahi pegawai di rumah dinas hanya karena permasalahan air.
Ia pun dianggap semena-mena mencopot jabatan sejumlah orang di kementeriannya.
Bahkan, Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kemendikti Saintek sempat mendemo Satryo agar dicopot dari jabatannya.
Baca tanpa iklan