Ringkasan Berita:
- Program Pascasarjana PTKIN didorong mencetak lulusan yang otoritatif tidak hanya di lingkungan akademisi dan kampus, tetapi juga melahirkan lulusan yang menjadi rujukan utama di tengah masyarakat.
- Konferensi internasional dapat dimanfaatkan sebagai jembatan dalam pengembangan keilmuan, khususnya keagamaan Islam yang kini telah ditopang oleh ribuan profesor.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama bersama Forum Direktur Pascasarjana (FORDIPAS) PTKIN menggelar International Conference on Islam, Law, and Society (The 5th INCOILS 2025) di Yogyakarta, 21-22 November 2025.
Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI Kamaruddin Amin dalam sambutannya mendorong Program Pascasarjana PTKIN terus mencetak lulusan yang otoritatif, tidak hanya di lingkungan akademisi dan kampus, tetapi juga melahirkan rujukan utama di tengah masyarakat.
"Ini tantangan bagi perguruan tinggi keagamaan Islam, untuk menjadi otoritas keagamaan di tengah masyarakat, dan pasca sarjana menjadi komunitas paling tinggi di kampus, bagaimana bisa mencereaate kondisi, dimana para alumni tidak hanya otoritatif secara kelembagaan, tetapi juga menjadi rujukan utama di tengah masyarakat," ungkap Prof Kamaruddin Amin, dalam keterangannya, Minggu (23/11/2025).
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Arskal Salim mendorong Pascasarjana PTKIN terus berinovasi seiring tradisi keilmuan Islam yang berkembang mengikuti arus kehidupan.
"Hal ini menuntut adanya prinsip etika, metode hukum, dan kearifan kolektif untuk merespons," tutur Prof Arskal.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Sahiron Syamsudin menuturkan, konferensi internasional dapat dimanfaatkan sebagai jembatan dalam pengembangan keilmuan, khususnya keagamaan Islam yang kini telah ditopang oleh ribuan profesor.
"Kita sudah punya profesor 1400 lebih, sekarang pertanyaannya, seberapa besar pengetahua yang sudah kita kembangkan, terkhusus keagamaan Isla. Seberapa jauh perkembangan yang kita lakukan, dan untuk itu lah di konferensi semacam ini kita bahas sebagaimana tema besar yang diusung," ungkapnya.
INCOILS sendiri telah menjadi forum terkemuka untuk mempertemukan sarjana, praktisi dan pembuat kebijakan dari berbagai negara.
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kali ini bertindak sebagai tuan rumah.
Kegiatan ini menjadi agenda bergengsi di kalangan akademisi pascasarjana lintas negara. Tema yang diangkat "Religion, Law, and Environmental Sustainability".
Edisi kelima di Yogyakarta ini bertujuan mendalami bagaimana kerangka hukum Islam dan nilai-nilai keagamaan dapat diintegrasikan secara efektif dalam merumuskan kebijakan dan tindakan nyata untuk mengatasi krisis lingkungan global.
Selama tiga hari penuh, para partisipan akan membahas berbagai sumtema, mulai dari fikih mulai daari fikih lingkungan, peran lembaga keagamaan dalam konservasi, hingga regulasi hukum terkait pengelolaan sumberdaya alam.
Harapannya, melalui konferensi seperti INCOILS ini, para akademisi dapat membuktikan kapasitas mereka untuk menjadi rujukan dan otoritas dalam isu-isu lingkungan, menawarkan perspektif keagamaan yang mendalam, berlandaskan ilmu yang kuat, serta memiliki dampak nyata bagi kemaslahatan umat dan alam semesta.(tribunnews/fin)
Baca tanpa iklan