News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Banjir Bandang di Sumatera

Deforestasi Diduga Perparah Banjir Bandang di Sumatra, Komisi IV DPR Panggil Menteri Kehutanan

Penulis: Chaerul Umam
Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

BENCANA SUMBAR - Akses jalan terputus di jalan Sicincin-Malalak-Balingka akibat terjangan banjir bandang yang terjadi di Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Minggu (30/11/2025). Gelondongan kayu terbawa banjir bandang di Sumatra, bukti nyata deforestasi memperparah bencana TRIBUNNEWS/HO/BNPB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Deforestasi diduga memperparah banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra.  

Gelondongan kayu yang terbawa arus memperkuat indikasi kerusakan hutan di kawasan hulu.  

Menyikapi hal ini, pihak Komisi IV DPR RI memanggil Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni untuk memberikan penjelasan terkait kondisi hutan dan langkah antisipasi bencana dalam rapat yang dijadwalkan Kamis, 4 Desember 2025 

Deforestasi merupakan kondisi ketika luas hutan berkurang karena konversi lahan menjadi non-hutan, misalnya untuk pertanian, perkebunan, permukiman, atau infrastruktur.  

Penyebab utama deforestasi berupa alih fungsi lahan, pembalakan liar, pembakaran hutan, dan pembangunan infrastruktur:  

Deforestasi diduga memperparah banjir bandang di Sumatera karena hilangnya fungsi hutan sebagai penyangga air dan pelindung tanah.  

Tanpa tutupan hutan, curah hujan ekstrem lebih mudah memicu longsor dan aliran air deras yang berujung banjir bandang. 

Ini menjadi alasan Komisi IV DPR memanggil Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, untuk membahas dugaan adanya deforestasi tersebut. 

Hal itu diungkapkan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Fraksi PDIP Alex Indra Lukman, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (1/12/2025). 

Awalnya, Alex menyoroti fenomena siklon yang memicu curah hujan ekstrem dan banjir bandang di sejumlah wilayah di Sumatera.  

Menurutnya kondisi ini merupakan kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah tropis Indonesia. 

“Ya kita melihat ini kan baru pertama kali siklon yang seperti ini terjadi di wilayah tropis di Indonesia. Tentu curah hujannya sangat ekstrem sekali,” jata Alex. 

Alex menjelaskan bahwa material kayu yang terbawa arus banjir menunjukkan indikasi adanya persoalan pada kawasan hulu, khususnya di lereng perbukitan. 

Hal ini, menurutnya, memperkuat dugaan adanya deforestasi atau kerusakan kawasan hutan yang memperparah dampak bencana. 

“Dari material yang terbawa, logika kita juga mengatakan ini bukan hanya kemudian air yang melimpah, tetapi ada sesuatu di hulu, di lereng bukit yang terjadi,” ucapnya. 

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini