TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menyebutkan wilayah Aceh bagian tengah tidak terjangkau pemantauan radar cuaca. Sehingga memperbesar risiko keterlambatan deteksi intensitas hujan ekstrem yang dipicu oleh Siklon Senyar di Selat Malaka.
Baca juga: Komisi IV DPR Desak Pemerintah Bentuk Tim Investigasi Usut Kayu Gelondongan dalam Banjir Sumatera
Siklon senyar berasal dari suplai uap air di Selat Malaka, membentuk awan konvektif masif dan memicu hujan ekstrem yang berlangsung berhari-hari. Kondisi tersebut, menjadi pemicu banjir besar yang terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Faisal menjelaskan bahwa saat ini Indonesia baru memiliki 44 radar cuaca dari total kebutuhan 75 unit. Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah wilayah, termasuk Aceh bagian tengah, dan Sumatera Utara, belum terjangkau sistem pemantauan radar.
“BMKG saat ini memiliki 44 radar cuaca di Indonesia. Yang dibutuhkan pada dasarnya adalah 75 radar, tapi baru terpenuhi 44. Jadi di Aceh bagian tengah itu juga tidak ter-cover oleh radar cuaca sebenarnya,” kata Faisal saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi V DPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (1/12/2025).
Faisal menjelaskan, wilayah Indonesia bagian utara memang kerap menjadi jalur bibit siklon yang berasal dari atas Papua kemudian melintas ke Filipina sebelum melemah di Laut Cina Selatan. Biasanya, daerah yang dilewati hanya mengalami hujan intens sekitar satu hari.
Namun, pola berbeda terjadi pada Siklon Senyar yang berada di Selat Malaka. Menurut Faisal, siklon tersebut sebelumnya diperkirakan akan melintasi daratan Aceh sebelum bergerak ke Samudra Hindia, sebagaimana pola serupa yang pernah terjadi pada tahun 2001 silam.
Namun pergerakannya justru terhambat sehingga berputar di wilayah tersebut. "Siklon Senyar ini tadinya kita perkirakan akan melintasi daratan Aceh kemudian ke Samudra Hindia seperti di tahun 2001 dahulu, tapi ternyata terhalang sehingga dia berputar-putar di sana,” ucapnya.
“Karena dia berputar-putar di Selat Malaka, maka terjadilah curah hujan ekstrem lebih dari 1 hari, jadi 2 hingga 3 hari. Ini yang menyebabkan eskalasi bencananya demikian besar karena siklonnya terlalu lama berada di daerah tersebut,” imbuhnya.
Radar cuaca yang dimiliki BMKG memperlihatkan masifnya awan hujan yang menumpuk di perbatasan Sumatera Utara dan Aceh. Namun karena keterbatasan jangkauan radar, sebagian wilayah Aceh, terutama bagian tengah, tidak dapat dipantau secara optimal.
"Ini tadi bisa kita lihat bagaimana radar menangkap begitu masifnya awan hujan," pungkasnya.
Siklon Senyar terbentuk dari Bibit Siklon 95B di sekitar Selat Malaka dan berkembang menjadi siklon pada 26 November 2025.
Sistem ini meningkatkan intensitas angin, penguapan laut serta pembentukan awan hujan skala besar.
Hasilnya suplai hujan ekstrem ke pesisir Sumatera, terutama Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut melaporkan tercatat sudah ada 240 orang meninggal.
Baca tanpa iklan