TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, secara langsung menyerahkan Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2025 kepada Ary Ginanjar Agustian pada malam puncak di Ciputra Artpreneur, Jakarta.
Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk pengakuan negara atas kontribusi Ary dalam pembangunan karakter bangsa.
Dalam sambutannya, Fadli Zon menegaskan bahwa AKI 2025 merupakan wujud kehadiran negara dalam mendukung para penggerak kebudayaan.
Ia menilai Ary Ginanjar layak menerima penghargaan bergengsi kategori Satya Budaya Narendra karena dedikasinya menanamkan nilai moral, spiritual, dan kepemimpinan berkarakter di tengah masyarakat.
“AKI 2025 dirancang agar kebudayaan dipandang sebagai ekosistem yang hidup. Penghargaan ini menjadi pengakuan negara atas kerja-kerja yang menjaga ingatan, memperkaya imajinasi, dan merawat keberlanjutan identitas Indonesia,” ujar Fadli Zon, dalam keterangan yang diterima, Sabtu (20/12/2025).
Penghargaan ini sekaligus menjadi apresiasi khusus dari Kementerian Kebudayaan kepada Ary Ginanjar, pendiri ESQ Corp, yang selama lebih dari 25 tahun konsisten mengabdikan diri pada pembangunan karakter bangsa melalui gerakan moral berbasis Emotional Spiritual Quotient (ESQ).
Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2025 kategori Satya Budaya Narendra
Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2025 kategori Satya Budaya Narendra adalah penghargaan khusus dari negara yang diberikan kepada tokoh-tokoh budaya yang dinilai memiliki dedikasi, perjuangan, dan karya berpengaruh besar bagi pemajuan kebudayaan Indonesia.
Siapa saja penerimanya?
Pada AKI 2025, terdapat tujuh tokoh penerima Apresiasi Khusus Satya Budaya Narendra.
Mereka dinilai memiliki rekam jejak panjang dan kontribusi signifikan di bidang seni, budaya, serta pemikiran kebangsaan.
- Jaya Suprana, budayawan multitalenta yang dikenal sebagai penulis, musisi, serta pemrakarsa berbagai gerakan kebudayaan.
- Pieter F. Gontha, dinilai berjasa besar dalam pengembangan industri budaya dan pariwisata, sekaligus memperkuat diplomasi budaya Indonesia.
- Sunaryo Soetono, perupa senior Indonesia yang karya-karyanya menjadi bagian penting dalam perkembangan seni rupa modern Indonesia.
- Nyoman Wenten, maestro karawitan Bali yang kiprahnya diakui secara internasional.
- Ary Ginanjar, diapresiasi atas kontribusinya melalui gagasan dan pemikiran yang menjembatani nilai-nilai budaya, spiritualitas, serta pembangunan karakter bangsa.
- Elvy Sukaesih yang dikenal sebagai “Ratu Dangdut” menerima apresiasi atas konsistensinya mengangkat dangdut sebagai ekspresi budaya populer Indonesia.
- Anhar Gonggong, sejarawan yang dedikasinya dalam penulisan dan pemikiran sejarah Indonesia telah memperkaya pemahaman publik mengenai perjalanan bangsa.
Respons Ary Ginanjar
Menerima anugerah tersebut, Ary Ginanjar menyampaikan rasa syukur dan menegaskan bahwa penghargaan ini bukan semata capaian pribadi, melainkan pengakuan atas ikhtiar kolektif dalam membangun fondasi karakter bangsa.
“Pembangunan bangsa tidak hanya berbicara tentang infrastruktur dan ekonomi, tetapi tentang manusia. Tentang hati yang berakhlak, pikiran yang bernilai, dan tindakan yang bermakna. Di situlah pembangunan karakter menjadi fondasi utama peradaban,” ujar Ary, Sabtu (20/12/2025).
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kebudayaan serta seluruh pihak yang selama dua setengah dekade terakhir menjaga keberlanjutan gerakan ESQ.
“Terima kasih kepada Menteri Kebudayaan, Bapak Fadli Zon, atas apresiasi ini. Terima kasih kepada keluarga besar ESQ, para pendidik, pemimpin, dan generasi muda yang terus menjaga api karakter bangsa tetap menyala,” katanya.
Baca tanpa iklan