TRIBUNNEWS.COM - Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari mengungkapkan penyebab terjadinya banjir susulan di Provinsi Aceh dan Sumatra Barat (Sumbar).
Abdul mengatakan ada peningkatan curah hujan dalam empat hari terakhir. Peningkatan itu memicu banjir susulan atau galodo di dua provinsi dalam seminggu.
“Terjadi banjir di tiga kabupaten di Aceh dan dua kabupaten di Sumbar,” kata dia dalam acara Apa Kabar Indonesia Malam di tvOne, Minggu, (28/12/2025).
Abdul berujar tidak ada korban jiwa karena banjir susulan di Sumbar.
“Alhamdulilah datangnya sumber galodo ini tidak dari ketinggian yang terlalu curan sehingga arus ke bawah itu tidak terlalu kencang sehingga dampak kerusakan pun minimum,” katanya menjelaskan.
Menurut dia, banjir susulan setelah curah hujan tinggi itu sebenarnya tidak akan terjadi jika kondisi infrastruktur keairan normal (sebelum banjir utama muncul). Banjir susulan terjadi karena kondisi dan kapasitas daya tampung drainase primer (saluran-saluran air dan sungai) saat ini mengalami penurunan.
“Bahkan, [penurunan] mungkin 70 persen karena ada pendangkalan akibat lumpur, sungai yang berpindah, kemudian sumbatan-sumbatan, dan seterusnya.”
Untuk mencegah dan menangani banjir susulan, Abdul mengatakan pihaknya kini berusaha mempercepat normalisasi dan infrastruktir keairan, khususnya pendalaman alur sungai dan normalisasi sungai di beberapa titik.
“[Titik itu] kita anggap memang menjadi titik rawan terjadinya limpasan kalau ada intensitas hujan tinggi. Ini tentu saja belum akan optimal dalam satu minggu ini karena daerah aliran sungai yang terdampak itu sangat luas,” kata dia.
Adapun cara lain yang dilakukan BNPB untuk mencegah banjir susulan adalah mengoptimalisasi operasi modifikasi cuaca. Sejak tanggal 27 November 2025, BNPB terus melakukan operasi modifikasi cuaca di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Abdul mengatakan empat pesawat dikerahkan di Aceh, dua pesawat dikerahkan di Sumatra Utara, dan tiga pesawat dikerahkan di Sumatra Barat.
Baca juga: Rehabilitasi Sumatera Pasca-Banjir Bandang Harus Benahi Juga Area Hulu
“Tetapi sekali lagi memang kondisinya ini kita berupaya membuat tidak ada hujan dalam kondisi puncak musim hujan,” ucapnya.
“Mungkin 20 hari dalam bulan terakhir pascabencana, bisa kita buat tidak ada hujan. Tetapi tentu saja ini ada batasan-batasannya sehingga tetap dalam beberapa kali, dalam beberapa hari, kemudian intensitas hujan turun dan menyebabkan adanya bencana susulan.”
Abdul mengatakan BNPB akan terus melakukan operasi modifikasi cuaca dan normalisasi kawasan infrastruktur terdampak bencana.
Berdasarkan informasi dihimpun, sejak bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumut, dan Sumbar tanggal 25 November 2025 lalu, terdapat sejumlah wilayah terdampak bencana yang dilanda banjir susulan.
Baca tanpa iklan