Ringkasan Berita:
- Rakernas PDIP Dinilai Krusial Membaca Peta Jawa Tengah.
- Ancaman PDIP Tak Tunggal: PSI dan Gerindra.
- Arah Rakernas Tentukan Strategi Politik PDIP.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat politik Arifki Chaniago menilai, momentum Rakernas PDI Perjuangan perlu dijadikan wadah untuk membaca ulang peta politik di Jawa Tengah.
Ia menerangkan Jawa Tengah selama ini bukan hanya lumbung suara PDIP, tetapi juga basis simbolik dan organisatoris.
Sehingga setiap pernyataan politik yang menyasar wilayah ini termasuk dari PSI, perlu dibaca secara struktural, bukan sekadar kompetisi elektoral biasa.
Arifki melihat ada ancaman utama terhadap PDIP di Jawa Tengah yang tidak bisa dibaca tunggal.
Di balik ekspansi PSI, ada Partai Gerindra sebagai partai penguasa yang memiliki sumber daya, jejaring elite, dan kontrol agenda nasional.
“PSI menguji ruang simbolik, Gerindra menguji struktur kekuasaan. Keduanya berbeda level, tetapi saling berkaitan,” ujar Arifki kepada wartawan, Minggu (11/1/2026).
Menurutnya Rakernas PDIP menjadi agenda penting karena akan memperlihatkan prioritas respon politik partai.
Jika Rakernas menekankan konsolidasi kader, penguatan basis akar rumput, dan komitmen terhadap Pilkada langsung, maka sinyalnya PDIP sedang memperkuat pertahanan struktural menghadapi kekuatan besar.
Sebaliknya, jika narasi lebih diarahkan pada adu simbol dan citra, maka PSI kemungkinan dibaca sebagai lawan yang perlu direspons lebih cepat.
Arifki menilai, sikap PDIP di tingkat nasional akan sangat memengaruhi pembacaan situasi ini. PDIP yang memilih oposisi tegas cenderung menjaga Jawa Tengah sebagai basis politik utama.
Sementara jika PDIP masih membuka ruang kompromi nasional, maka fokus pertahanan daerah berpotensi terbagi, memberi ruang kompetisi yang lebih terbuka.
Baca juga: Perolehan Suara PSI di Jateng Tahun 2019 dan 2024, Kaesang Targetkan 2029 Jateng Jadi Kandang Gajah
“Dalam politik, perubahan besar sering diawali bukan oleh kekalahan, tetapi oleh kelengahan membaca perubahan peta,” ucap Arifki.
Pernyataan Kaesang
Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep menargetkan Jawa Tengah (Jateng) menjadi "kandang gajah" pada Pemilu 2029. Gajah yang dimaksud Kaesang ialah gajah pada logo terbaru PSI.
“Jawa Tengah ini kandang gajah. PSI hadir untuk masyarakat Jawa Tengah. Tolong bantu kami bekerja dan bergerak bersama menuju Pemilu 2029,” kata Kesang dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) sekaligus pelantikan pengurus baru DPW dan DPD PSI se-Jawa Tengah di Hotel Sunan Solo, Kota Solo, Jateng, Kamis, (8/1/2026).
Kaesang mengatakan terdapat kemajuan pesat perolehan kursi partai berlambang gajah itu di tingkat kota/kabupaten maupun provinsi di Jateng.
Pada pemilu lalu, PSI mendapatkan total 12 kursi yang terdiri atas lima kursi DPRD Kota Semarang, lima kursi DPRD Kota Solo, dan dua kursi DPRD Provinsi Jateng.
Jateng sendiri sudah lama dianggap sebagai "kandang banteng" karena PDIP bisa dikatakan sangat kuat di provinsi itu. Oleh karena itu, pernyataan Kaesang tentang "kandang gajah" menuai sorotan luas.
Pengamat: Dianggap perang terbuka melawan PDIP
Adi Prayitno, pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, mengatakan ada banyak pihak yang menganggap pernyataan Kaesang di atas sebagai perang terbuka PSI melawan PDIP.
Menurut Adi, target PSI menjadikan Jateng sebagai kandang gajah adalah target yang sulit karena PDIP sangat kuat di sana. Dia merasa yang punya peluang menggeser PDIP di Jateng adalah partai-partai besar, bukan PSI.
“Jawa Tengah adalah kandangnya banteng. Pileg kemudian pilpresnya, termasuk soal pilkadanya, secara relatif dalam setiap kompetisi, PDIP selalu memenangkan pertarungan secara signifikan,” kata Adi dalam kanal YouTube miliknya, Sabtu, (11/1/2026).
Adi mengatakan pernyataan Kaesang tentang target PSI di Jateng dianggap sebagai pernyataan yang tidak rasional dan tidak didasarkan atas perhitungan politik yang terukur.
Lalu, dia menyampaikan dalam Pilgub Jateng 2024, PDIP memang kalah. Meski demikian, partai berlogo banteng itu sangat kuat di Jateng dalam Pileg 2024. Buktinya, PDIP berhasil menang di 19 kabupaten/kota.
“Ini PSI belum pernah lolos ke parlemen, tapi targetnya adalah menjadikan sebagai kandang gajah, itu dianggap sebagai pernyataan politik yang berlebihan, dianggap terlampau bombastis,” kata Adi.
Baca juga: PSI Hendak Ubah Basis PDIP di Jateng Jadi Kandang Gajah, Djarot Tersenyum Lebar
Alumni UIN Jakarta dan Universitas Indonesia (UI) itu mengatakan pernyataan Kaesang tersebut pasti dikaitkan dengan rivalitas lanjutan antara mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dan PDIP.
“Apa pun judulnya, Kaesang adalah putra Jokowi, saat ini menjadi Ketua Umum PSI. Bicara tentang Jawa Tengah, kandang PDIP, kandang banteng, maka publik menganggap ini adalah semacam rivalitas yang kemudian akan terus berlanjut.
Menurut Adi, dari dulu hingga sekarang ada perdebatan bahwa PDIP kuat di Jateng karena ada faktor Jokowi. Di sisi lain, para politikus PDIP menganggap partai mereka kuat di Jateng karena PDIP memang solid di sana dan tidak ada sosok yang dianggap paling menonjol melampaui PDIP.
“Wajar kalau kemudian pernyataan Kaesang ini dianggap semacam psywar politik, semacam perang politik terbuka yang mulai digemakan oleh Kaesang ketika menyampaikan pidato politik,” katanya.
Kemudian, dia menyinggung gagalnya PSI lolos ke parlemen pada Pemilu 2024. Pada saat itu Kaesang sudah menjadi Ketua Umum PSI dan masih menjadi putra seorang presiden.
“Tahun 2029 Kaesang tidak lagi menjadi anak presiden dan posisinya per hari ini adalah sebagai ketua umum tentu sedang diuji,” ucap Adi.
“Apakah statement-statement-nya ini akan berdampak pada bagaimana semangat politik yang dimiliki oleh kader-kader PSI di Jawa Tengah berlipat ganda dan kemudian akan memenangkan pertarungan untuk menjadikan Jawa Tengah sebagai kandang gajah, bukan kandang banteng.”
Tanggapan PDIP
Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto turut menanggapi pernyataan Kaesang yang menargetkan Jateng menjadi kandang gajah.
“Pemilu masih panjang. Rakyat yang menentukan. Rakyat yang punya kedaulatan,” kata Hasto dalam Rakernas PDIP di Ancol, Jakarta, Sabtu, (10/1/2026), ketika ditanya oleh awak media.
“PDI Perjuangan melalui peringatan HUT ke-53 ini melakukan autokritik, memperbaiki ke dalam, mempertajam praksis ideologi dan kemudian seperti penanganan bencana, setidak-tidaknya PDI Perjuangan bergerak maksimum demi kemanusiaan tanpa mempertimbang aspek-aspek mereka memilih siapa.”
Baca juga: PSI Minta Polisi Segera Tahan Roy Suryo dkk Terkait Kasus Penyebaran Isu Ijazah Palsu Jokowi
Dalam situasi saat ini, kata Hasto, PDIP lebih berfokus pada konsolidasi organisasi dalam seluruh aspek kehidupan partai.
Baca tanpa iklan