TRIBUNNEWS.COM - Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian, mengungkapkan bencana hidrometeorologi yang melanda tiga provinsi di Sumatra, telah mengakibatkan dampak bagi masyarakat dan lingkungan.
Hidrometeorologi merupakan bencana yang dipicu oleh aktivitas cuaca seperti siklus hidrologi, curah hujan, temperatur, angin dan kelembapan.
Adapun bentuk bencana hidrometeorologi berupa kekeringan, banjir, badai, kebakaran hutan, longsor, angin puyuh, gelombang dingin, hingga gelombang panas.
Seperti banjir dan tanah longsor yang terjadi di Sumatra Barat (Sumbar), Sumatra Utara (Sumut), dan Aceh pada akhir November 2025 lalu. Akibatnya, 1.190 jiwa meninggal, 141 korban hilang, dan 53 kabupaten/kota terdampak per Kamis (15/1/2026).
Selain korban jiwa, bencana Sumatra berdampak pada kerusakan bangunan. Hingga hilangnya wilayah desa lantaran terbawa arus banjir dan tanah longsor.
Mendagri Tito Karnavian menyampaikan, sebanyak 29 desa atau kampung dinyatakan hilang hingga saat ini.
Dari total tersebut, desa yang hilang paling banyak berada di Provinsi Aceh.
"Desa yang hilang karena longsor atau karena banjir, terbawa arus. Aceh memang yang terbanyak, 21 desa atau kampung yang hilang," katanya dalam rapat Satuan Tugas (Satgas) percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana banjir bandang Sumatra di Gedung Kementerian Dalam Negeri RI (Kemendagri), Kamis.
Kemudian, delapan desa lain yang hilang berada di Provinsi Sumatra Utara.
Sementara itu, tidak terdapat desa hilang di Provinsi Sumatra Barat.
“Sumbar yang semula 1 tapi sudah dikoreksi, bahwa tidak ada desa yang hilang, yang ada pernah terisolasi, jadi total jumlah desa yang hilang adalah 29, 21 di Aceh, 8 di Sumut," ucap Tito Karnavian.
Baca juga: Tito Karnavian, AHY hingga Pratikno Pimpin Rakor Percepatan Rehabilitasi Pascabencana Sumatra
Eks Kapolri menambahkan, bencana Sumatra juga berdampak pada infrastruktur pemerintahan desa. Tercatat, sebanyak 1.681 kantor desa terdampak bencana Sumatra.
Tito Karnavian menyebut, Aceh menjadi wilayah terdampak berat akibat bencana. Sebanyak 1.495 kantor desa di Aceh terdampak.
Di Sumatera Utara, ada 64 kantor desa terdampak, dan sebanyak 45 kantor desa terdampak di Sumatera Barat.
Baca tanpa iklan