TRIBUNNEWS.COM - Dinamika pelestarian budaya Jawa di Indonesia saat ini seringkali menghadapi persimpangan jalan yang krusial.
Perubahan signifikan pada arah kebijakan budaya yang kini lebih menitikberatkan aspek wisata dan pencitraan membuat upaya pelestarian yang bersifat kajian mendalam dan substantif sering kali terpinggirkan.
Hal ini berimbas pada sulitnya akses informasi dan data sejarah bagi para peneliti di tingkat instansi pemerintah, di mana orientasi kerja lebih banyak terserap untuk kegiatan festival yang memiliki nilai jual publikasi ketimbang penyelamatan naskah.
Kondisi tersebut mendorong inisiatif salah satu komunitas Sraddha Sala berupaya meneliti naskah-naskah yang tersebar di daerah atau pelosok desa.
Sraddha Sala adalah komunitas dan ruang penelitian berfokus pada studi naskah kuno atau manuskrip yang didirikan pada 2 April 2016.
Komunitas yang berada di Surakarta, Jawa Tengah, ini terdiri atas sekelompok pegiat sastra Jawa yang memiliki minat penelitian naskah kuno dan budaya Jawa.
Berdasarkan pengamatan Rendra Agusta selaku pendiri komunitas ini, masyarat di desa masih kurang tersentuh soal sosialiasi cara merawat naskah kuno yang dimiliki.
"Banyak naskah itu yang akhirnya rusak karena nggak tahu cara ngerawatnya, saya pernah nemu naskah itu malah kayak dipocong gitu. Jadi posisi naskah di beberapa tempat itu masih pusaka, bener-bener yang dikeramatkan. Nah, itu bagi saya lebih baik kan itu terselamatkan ya, karena bagaimanapun juga itu peninggalannya leluhur mereka," ucap Rendra Agusta.
Dalam rangka mengatasi masalah ini, komunitas pegiat naskah Jawa kuno ini berfokus pada upaya edukasi dan bantuan perawatan naskah secara sukarela agar dokumen tersebut tetap terjaga di tangan pemilik aslinya.
Mereka memberikan bantuan berupa alat fumigasi, bahan alami seperti kemiri, hingga bahan khusus yang mahal seperti tisu Jepang untuk membungkus naskah agar tidak hancur dimakan rayap.
Baca juga: Mengenal Komunitas Sraddha Sala, Merawat Naskah Kuno dan Budaya Jawa dari Akar Desa
"Kadang-kadang beberapa desa yang maaf misalkan keluarganya nggak mampu, ya kita yang membelikan kayak tisu ini."
"Tisu-tisu buat bungkus niki, terus kita beli buat apa ya, alat-alat fumigasi gitu-gitu buat lontar biar nggak dimakan rayap, kita bikin sendiri. Terus kita kasih ke mereka. Jadi memang ya sukarela aja," paparnya.
Upaya ini dilakukan demi menyelamatkan warisan leluhur yang belum terdata oleh negara, sekaligus melindungi masyarakat desa yang lugu agar tidak terus menjadi korban penipuan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Tantangan Merawat Naskah di Desa
Tantangan terbesar dalam penyelamatan naskah ini adalah membangun kepercayaan masyarakat desa yang cenderung defensif dan trauma terhadap pihak luar.
Hal ini disebabkan oleh maraknya kolektor atau pemburu barang antik yang sering menipu warga.
Baca tanpa iklan