News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Sorot Wacana Pilkada Via DPRD dan E-Voting, Peneliti Formappi Lucius Karus Sentil Integritas Parpol

Penulis: Mario Christian Sumampow
Editor: Adi Suhendi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

WACANA PILKADA - Potret Peneliti Formappi Lucius Karus. Ia menyoroti wacana pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD atau e-voting. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Peneliti dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus menyoroti wacana pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD atau e-voting. 

Menurut Lucius Karus saat ini persoalan utama dalam Pemilu adalah integritas kader yang disiapkan partai politik. 

"Ketimbang bicara soal penggunaan e-voting, lebih penting sekarang membicarakan bagaimana menyiapkan Parpol dan politisinya agar yang ikut pemilu benar-benar punya integritas sehingga praktek manipulasi tak terjadi," kata Lucis saat dihubungi, Sabtu (17/1/2026). 

Lucius menegaskan perdebatan soal memungkinkan atau tidaknya e-voting diterapkan dalam Pilkada sejatinya bukan persoalan utama. 

Masalah yang lebih krusial justru terletak pada kemauan partai politik untuk menerima dan mempercayai teknologi tersebut.

Baca juga: E-Voting Usulan PDIP Berpeluang Diterapkan di Pilkada Mendatang

“Sekarang kan bukan soal e-voting memungkinkan atau tidak untuk diterapkan pada Pilkada, tetapi soalnya adalah apakah Parpol-parpol selain PDIP mau atau tidak,” ujarnya.

Ia menilai, jika partai politik memiliki kehendak yang sama, penerapan e-voting seharusnya bukan hal yang mustahil.

Namun, faktanya, banyak parpol yang belum menaruh kepercayaan pada teknologi untuk urusan pemberian suara dalam pemilu.

Baca juga: Sejarah Politik Uang Jadi Alarm, Biaya Tetap Tinggi Meski Pilkada Lewat DPRD

Lucius menyebut sikap tersebut sebagai sesuatu yang ironis. 

Pasalnya, di banyak negara, teknologi telah digunakan untuk kepentingan yang jauh lebih kompleks dan berisiko, termasuk dalam urusan pertahanan dan peperangan.

“Negara lain untuk urusan perang saja, tenaga manusia sudah mulai banyak digantikan teknologi. Masa untuk urusan memberikan suara saja, negara kita enggan pada teknologi?” katanya.

Ia menduga, keengganan partai politik beralih ke e-voting lebih disebabkan ketakutan akan potensi manipulasi teknologi. 

Parpol, kata dia, kerap mencurigai sistem elektronik mudah “dikerjai”.

Menurut Lucius, kecurigaan Parpol tersebut berangkat dari persoalan yang keliru. 

Menurutnya, pihak yang memiliki kepentingan melakukan manipulasi dalam pemilu justru adalah aktor-aktor politik itu sendiri.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini