Ringkasan Berita:
- Partai Gema Bangsa menyatakan dukungan kepada Presiden Prabowo Subianto di Pilpres 2029 karena kesamaan visi kemandirian bangsa.
- Meski partai tersebut mengklaim sebagai partai modern, terbuka, dan tidak berbasis figur, melainkan sistem dan gagasan desentralisasi.
- Pengamat Jeirry Sumampow menilai dukungan awal tersebut kurang strategis bagi partai baru karena berpotensi mensubordinatkan diri pada penguasa.
TRIBUNNEWS.COM - Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Gema Bangsa Abdul Khaliq Ahmad mengungkapkan alasan partai baru tersebut secara terbuka memberikan dukungan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk kembali maju pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029.
Partai Gema Bangsa menggelar konsolidasi nasional dan mendeklarasikan diri pada Jumat (17/1/2025) di Jakarta.
Abdul Khaliq menegaskan Partai Gema Bangsa sejak awal dibangun sebagai partai modern dan terbuka yang tidak bertumpu pada figur tertentu.
Menurutnya, salah satu ciri utama partai modern adalah berbasis pada sistem dan gagasan, bukan pada kultus individu.
“Partai Gema Bangsa itu partai modern dan terbuka. Basisnya adalah sistem, bukan figur."
"Karena itu, di partai kami tidak ada figuritas, semua setara,” ujar Abdul Khaliq, kepada Tribunnews, saat hadir dalam diskusi Overview Tribunnews, ditayangkan di YouTube Tribunnews, Rabu (21/1/2026).
Ia menjelaskan nilai utama yang diusung Partai Gema Bangsa adalah desentralisasi yang mengandung nilai kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan.
Struktur kepengurusan di tingkat pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota hanya bersifat administratif, bukan hierarkis.
“Yang membedakan hanya struktur. Tetapi sesungguhnya kami semua setara. Karena itu, sebutan di partai kami adalah ‘kawan’,” katanya.
Meski tidak mengedepankan figur, Abdul Khaliq menjelaskan bahwa dukungan kepada Prabowo Subianto didasarkan pada kesamaan visi.
Ia menilai visi kemandirian bangsa yang diusung Presiden Prabowo sejalan, bahkan hampir identik dengan visi Partai Gema Bangsa.
“Kemandirian bangsa menurut Presiden Prabowo harus diwujudkan agar Indonesia berdiri di atas kaki sendiri, baik di bidang ekonomi, teknologi, budaya, maupun politik. Ini sejalan dan sebangun dengan visi Partai Gema Bangsa,” ujarnya.
Baca juga: Profil Ahmad Rofiq Ketua Umum Partai Gema Bangsa, Mantan Sekjen NasDem dan Perindo
Atas dasar kesamaan visi tersebut, Partai Gema Bangsa secara tegas menyatakan dukungan kepada Prabowo Subianto untuk kembali maju sebagai calon presiden pada Pemilu 2029.
Selain itu, Abdul Khaliq menambahkan, sejak awal pendirian partai, Gema Bangsa menilai pentingnya kejelasan arah dan pilihan politik.
“Bagi kami, kelamin politik harus jelas sejak awal. Karena itu, sejak awal pembentukan, kami sudah memutuskan pilihan politik bersama Presiden Prabowo Subianto,” katanya.
Pihaknya juga mengatakan Partai Gema Bangsa mendukung Prabowo Subianto menjabat dua periode, termasuk untuk mengoptimalkan program-program di 5 tahun menjabat.
Dikritik
Sementara itu, Koordinator Komite Pemilih Indonesia Jeirry Sumampow mengkritik arah Partai Gema Bangsa tersebut, yang langsung memberikan dukungan kepada Prabowo Subianto.
Jeirry menilai keputusan Partai Gema Bangsa untuk mendukung Prabowo Subianto sebagai calon presiden dinilai kurang strategis bagi partai baru tersebut.
Menurutnya, langkah itu berpotensi menempatkan Partai Gema Bangsa seolah-olah mensubordinatkan diri kepada Prabowo, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus Presiden Republik Indonesia.
Jeirry berpandangan partai baru semestinya membangun narasi politik yang berbeda dan mandiri, bukan justru melekat pada kekuasaan yang sedang berjalan.
Ia membandingkan sikap Partai Gema Bangsa dengan Partai Gerakan Rakyat yang dinilainya lebih konsisten membangun narasi alternatif.
“Partai Gerakan Rakyat dalam beberapa kesempatan berani mengkritik langsung kebijakan pemerintahan yang sekarang. Itu menunjukkan diferensiasi politik,” ujarnya kepada Tribunnews, saat hadir dalam diskusi Overview Tribunnews, ditayangkan di YouTube Tribunnews, Rabu (21/1/2026).
Menurut Jeirry, dukungan dini kepada Prabowo justru berisiko mempersempit ruang Partai Gema Bangsa dalam menggalang dukungan masyarakat.
Terlebih, partai tersebut mengusung gagasan desentralisasi yang seharusnya disosialisasikan secara luas dan kritis kepada publik.
“Kalau sejak awal sudah mendukung Prabowo, sementara Prabowo adalah bagian dari rezim yang sedang berkuasa, maka akan muncul kontradiksi. Desentralisasi yang digaungkan jadi sulit dipahami publik,” katanya.
Ia menila, partai-partai baru seharusnya mengambil peran sebagai penantang (challenger) terhadap kekuasaan, bukan justru berada dalam barisan penguasa sejak awal. Sikap kritis tersebut dinilai penting untuk memperkuat identitas dan gagasan besar yang ditawarkan kepada masyarakat.
“Secara tidak langsung publik akan melihat, jika dari awal sudah mendukung Prabowo, maka gagasan-gagasan besar yang dibangun partai berpotensi kehilangan daya kritis dan diferensiasi,” kata Jeirry.
(Tribunnews.com/Garudea Prabawati)
Baca tanpa iklan