News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Longsor di Bandung Barat

Longsor Cisarua, Dedi Mulyadi Ingatkan Dosa Kolektif pada Alam

Penulis: Galuh Widya Wardani
Editor: Nanda Lusiana Saputri
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

DEDI MULYADI - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi usai melakukan pertemuan dengan KPK di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (11/12/2025).

Ringkasan Berita:

  • Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi merespons bencana tanah longsor yang terjadi di Kampung Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat Sabtu (24/1/2026) dini hari.
  • Menurutnya, kerusakan alam bukanlah persoalan satu pihak semata.
  • Melainkan menjadi tanggung jawab bersama, baik pemerintahan maupun masyarakat untuk bisa saling instrospeksi diri.

TRIBUNNEWS.COM - Bencana tanah longsor yang terjadi di Kampung Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat, Sabtu (24/1/2026) dini hari, menjadi pengingat keras kerusakan alam bukanlah persoalan satu pihak semata.

Hal itu disampaikan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang menilai peristiwa tersebut sebagai akibat dari dosa kolektif manusia terhadap alam.

Kondisi alam yang rusak adalah akumulasi dari berbagai kebijakan dan perilaku manusia yang selama ini abai terhadap keseimbangan lingkungan.

Sehingga, fenomena ini bukan akibat dari salah satu pihak, melainkan kesalahan bersama.

Mirisnya, kata Dedi, longsor yang menimpa warga seringkali terjadi tanpa mereka harus melakukan kesalahan secara langsung.

"Longsor yang dialami oleh saudara kita di Bandung Barat menjadi catatan penting bahwa bencana bisa menimpa siapa saja tanpa orang tersebut melakukan perbuatan yang mengakibatkan bencana," ujar Dedi dalam pernyataannya di Instagram @dedimulyadi71, Minggu (25/1/2026).

Ia menyoroti perubahan besar pada kawasan perbukitan dan lereng gunung yang kini beralih fungsi menjadi kebun sayur dan bunga dengan sistem greenhouse.

Proses penanaman yang menggunakan media plastik, menurutnya, telah merusak daya dukung tanah dan mempercepat potensi longsor.

Selain itu, Dedi juga menyinggung alih fungsi lahan persawahan menjadi kawasan perumahan, serta kondisi sungai yang mengalami pendangkalan.

Bantaran dan sempadan sungai yang seharusnya menjadi ruang hijau, kini justru berubah menjadi kawasan komersial.

"Itu fakta bahwa kita sudah berbuat salah terhadap areal-areal perbukitan. Kita sudah abai terhadap alam semesta." ujar Dedi Mulyadi.

Baca juga: Dua Polisi Meninggal Dunia Terhimpit Truk TNI di Jalur Evakuasi Longsor Cisarua Jawa Barat

Dedi menyebut manusia selama ini terlalu jauh mengeksploitasi bumi tanpa mempertimbangkan keharmonisan dan keselarasan hidup.

Padahal, manusia sejatinya hanya "menumpang" di bumi dan seharusnya menghormati alam sebagai ruang hidup bersama.

Ia pun mengajak semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, untuk melakukan introspeksi secara jujur.

Pemerintah diminta menyadari kesalahan dalam kebijakan tata ruang dan pengelolaan lingkungan, sementara masyarakat juga harus memahami tindakan yang bertentangan dengan alam pada akhirnya akan berbalik menjadi bencana.

"Sudah saatnya kita berintrospeksi diri untuk merubah seluruh perilaku buruk yang menjadikan alam menjadi bahan eksploitasi kita tanpa mempertimbangkan keharmonian hidup, keselarasan hidup agar kita yang numpang di bumi ini menghormati bumi sebagai tempat tumpangan kita."

"Untuk itu marilah kita bersama-sama menyadari pemerintah harus sadar akan kesalahannya. Masyarakat pun harus menyadari bahwa tindakan-tindakan yang bertentangan dengan alam pada akhirnya akan menjadi bencana dan menimpa siapapun tanpa melihat latar belakang kehidupannya," tegas Dedi Mulyadi.

Di akhir pernyataannya, Dedi Mulyadi menyampaikan duka mendalam atas bencana longsor yang terjadi di Cisarua serta di berbagai wilayah lain di Provinsi Jawa Barat.

Ia berharap peristiwa ini mampu menyadarkan semua pihak agar lebih bijak memperlakukan alam.

"Saya menyampaikan ucapan duka yang mendalam atas peristiwa bencana yang terjadi di Cisarua dan di berbagai tempat di Provinsi Jawa Barat."

"Semoga kita menjadi manusia yang tersadarkan," demikian pernyataan Dedi Mulyadi.

Update Korban Longsor di Cisarua

Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya M Syafii, mengatakan update data korban tanah longsor di Cisarua saat ini ada 113 orang dari 34 kepala keluarga.

M Syafii menyebut, sejauh ini korban yang berhasil diselamatkan adalah 23 orang, sementara 80 orang lainnya dinyatakan hilang.

"Dalam pelaksanaan operasi (pencarian korban) hari pertama, informasi sementara korban yang terdampak ada 113 korban dari 34 kepala keluarga, itu informasi awal," kata M Syafii pada Minggu (25/1/2026) pagi, dilansir Kompas TV.

"Dari kejadian tersebut telah bisa kita selamatkan dengan jumlah 23 orang. Kemudian informasi yang juga kita terima bahwa masih ada 80 warga yang dinyatakan hilang," jelas M Syafii.

Pada operasi pencarian hari pertama kemarin, sebanyak 12 orang sudah ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.

Terhadap 12 korban itu, saat ini telah diserahkan Basarnas dan Tim SAR gabungan kepada Tim Disaster Victim Identification (DVI).

Enam jenazah telah berhasil diidentifikasi dan langsung diserahkan kepada pihak keluarga.

"Jadi kita akan mengatakan jenazah pada saat sudah teridentifikasi, yang telah diserahkan kepada keluarga," terang M Syafii.

(Tribunnews.com/Galuh Widya Wardani)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini