TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Sebanyak 30 pemuda dari Indonesia dan Singapura mengikuti program pertukaran budaya selama lima hari pada 12-16 Januari 2025 di Singapura melalui program Bilateral Relations and Intercultural Dialogue for Growth and Empowerment (BRIDGE).
Ini merupakan program pertukaran kepemimpinan pemuda bilateral yang diselenggarakan oleh Singapore International Foundation (SIF) yang diikuti 16 pemimpin muda dari Singapura dan 14 dari Indonesia untuk memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat multikultural.
Melalui program ini para peserta didorong membangun persahabatan jangka panjang untuk mewujudkan perdamaian, inklusivitas dan kemajuan di berbagai komunitas.
Tema yang diangkat “Fostering Social Cohesion in a Multicultural Society” dan diisi dengan diskusi panel, serta lokakarya penguatan kapasitas yang dikurasi.
Selama di Singapura peserta mengikuti tur dengan berjalan kaki menyusuri kawasan Selegie–Prinsep, sebuah distrik sipil bersejarah di pusat Singapura untuk mendorong kepedulian dan inklusi komunitas.
Peserta juga diajak menyambangi kawasan perumahan publik Toa Payoh, kawasan pertama di Singapura yang sepenuhnya dikembangkan sebagai perumahan publik yang turut membentuk Singapura modern.
Kegiatan lainnya adalah kunjungan ke galeri edukasi publik Harmony in Diversity Gallery yang menampilkan pendekatan multiagama Singapura dalam membangun budaya saling memahami dan
harmoni antarumat beragama; dan lokakarya berbasis pengalaman yang difasilitasi perusahaan sosial kreatif dan platform penceritaan The Black Sampan.
Para peserta juga mengikuti diskusi panel yang membahas dasar-dasar kohesi sosial dari perspektif generasi muda serta pendekatan dalam menumbuhkan kepemimpinan pemuda yang inklusif di masa depan.
Melalui diskusi yang difasilitasi, peserta mengeksplorasi solusi praktis atas berbagai tantangan sosial yang dihadapi di komunitas dan ekosistem. Para peserta dari Singapura dan Indonesia untuk bertukar pandangan mengenai isu sosial yang dihadapi bersama.
“Berinteraksi langsung dengan berbagai inisiatif komunitas bersama rekan-rekan dari Indonesia membuat saya berhenti sejenak dan merenungkan lebih dalam makna membangun kepercayaan dan pemahaman lintas perbedaan," ungkap Ms Amalina Binte Abdul Nasir, Wakil Presiden Mendaki Club, peserta asal Singapura.
Budy Sugandi, Direktur Buperta Pramuka, peserta asal Indonesia mengatakan, program ini memberinya kesempatan untuk saling belajar dari pengalaman masing-masing dan melihat bagaimana berbagai pendekatan dapat diterapkan dalam masyarakat yang beragam.
"Ini bukan sekadar dialog, tetapi membangun koneksi nyata dan mencari cara untuk bersama-sama menciptakan komunitas yang inklusif,” ujarnya.
Ms Corinna Chan, Chief Executive Officer Singapore International Foundation, mengatakan, masyarakat ASEAN kini semakin saling terhubung sekaligus semakin beragam, dan para pemimpin muda memegang peran penting dalam menjembatani perbedaan melalui empati dan saling memahami.
"BRIDGE bukan sekadar program pertukaran, melainkan katalis kolaborasi yang mempertemukan anak muda dari Singapura dan Indonesia untuk berbagi gagasan, menantang perspektif, serta bersama-sama merumuskan solusi guna memperkuat fondasi kohesi sosial," kata Corinna.
Baca juga: Ingin Punya Kesempatan Belajar di Luar Negeri? Ketahui 5 Cara Mencari Informasi Pertukaran Pelajar
Di program ini, komitmen para peserta dinilai mencerminkan harapan bagi masa depan yang inklusif, tangguh, dan bersatu.(fin)
Baca tanpa iklan