TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat Politik dari Lingkar Madani Ray Rangkuti menilai Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tidak akan lolos ke Senayan sekalipun ada dukungan dari Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Menurut Ray Rangkuti, untuk membuat partai menjadi besar membutuhkan figur yang saat ini sedang berkuasa.
Selain figur, untuk membuat partai menjadi besar dibutuhkan dana yang besar.
"Saya tidak terlalu yakin. Partai menjadi besar itu, selain butuh dana juga butuh figur. Tapi tidak sekedar figur yang populer tapi juga figur yang sedang berkuasa," kata Ray Rangkuti, Minggu (1/2/2026).
Ia pun mengaku tidak tahu sebesar apa dana yang dimiliki PSI saat ini.
Ray menyoroti, meskipun populer, Jokowi saat ini sudah tidak berkuasa lagi.
Baca juga: Jokowi Sebut Dirinya Motivator saat Hadiri Rakernas PSI, Siapa Sosok Mr J Ketua Dewan Pembina?
Ia pun melihat suara PSI saat Jokowi berkuasa.
Pada Pemilu 2019, PSI diketahui hanya 2.650.361 suara atau 1,89 persen.
Kemudian pada Pemilu 2024 PSI mendapatkan 4.260.169 suara atau 2,8 persen.
"Bahkan kala Pak Jokowi sedang berkuasa, dan begitu banyak Bansos dikucurkan pada Pemilu 2024 lalu, suara PSI hanya dapat 2,8 persen," ujarnya.
Baca juga: Jokowi Bakal Mati-matian untuk PSI, Adi Prayitno: PSI Jadi Arena Uji Kekuatan Politik Ayah Kaesang
Apalagi, lanjutnya kalau Jokowi sudah tidak berkuasa dan tidak ada lagi bagi-bagi bansos.
"Situasi ini ditambah dengan semakin terkonsentrasinya pemilih ke partai-partai besar. Bahkan besar kemungkinan, pemilu 2029 yang akan datang partai yang akan masuk ke Senayan bukannya bertambah tapi berkurang," ucapnya.
Ray Rangkuti juga menyoroti dari beberapa survei, setidaknya akan ada satu partai yang akan gagal lagi ke Senayan.
"Dengan fakta ini, saya tidak terlalu yakin PSI akan masuk ke Senayan. Tapi bisa jadi akan kuat di beberapa daerah," ujarnya.
Jokowi Bantu PSI
Jokowi menyatakan dirinya akan membantu dan bekerja keras untuk kemenangan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Pemilu mendatang.
Baca tanpa iklan