Tradisi ini berakar dari kepercayaan lama masyarakat Eropa dalam membaca tanda-tanda alam.
Awalnya, kebiasaan ini berkaitan dengan perayaan Candlemas, di mana kondisi cuaca pada hari tersebut diyakini mencerminkan sisa musim dingin.
Di Jerman, hewan seperti landak digunakan sebagai “peramal”.
Ketika para imigran Jerman pindah ke Amerika, marmut atau groundhog menggantikan peran tersebut.
Kota Punxsutawney di Pennsylvania kemudian menjadi pusat perayaan Groundhog Day.
Setiap tahun, ribuan orang berkumpul untuk menyaksikan kemunculan marmut yang dipercaya memberikan petunjuk simbolis tentang perubahan musim.
Tradisi ini semakin dikenal luas setelah film Groundhog Day (1993) yang menjadikannya bagian dari budaya populer global.
(Tribunnews.com/Farra)
Baca tanpa iklan