TRIBUNNEWS.COM - Pernyataan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) saat hadir dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Makassar pada Kamis-Sabtu (29-31/1/2026) menuai sorotan tajam dari pegiat media sosial, Tifauzia Tyassuma alias dokter Tifa.
Ia menilai kehadiran Jokowi dengan kondisi fisik yang tampak tidak prima bukan sekadar agenda politik biasa, melainkan bagian dari strategi pencitraan yang disengaja.
Melalui akun X/Twitter @DokterTifa, Minggu (1/2/2026), ia mempertanyakan alasan Jokowi tetap tampil di hadapan publik meski dinilai sedang sakit.
Dokter Tifa melihat Jokowi terkesan memaksakan diri hadir di kegiatan tersebut.
Jokowi begitu lanang berpidato, ia hadir di panggung di Makassar, namun selalu absen di pengadilan dalam menyelesaikan kasus tuduhan ijazah palsu.
Dokter Tifa meyakini, Jokowi sedang menjalankan apa yang ia sebut sebagai strategi playing victim.
Baca juga: Wasekjen PSI Ibaratkan Jokowi Seperti Lionel Messi Tanpa Piala Dunia
Dalam pandangannya, Jokowi menempatkan diri sebagai figur yang terus "dianiaya" dan disakiti.
Jadi, panggung Rakernas PSI ini menurut dokter TIfa hanya untuk membangun narasi sebagai "orang sakit yang terus disakiti".
"Mengapa dalam keadaan sakit, wajah ancur, body ringkih, gesture tertatih, dia masih hobby tampil? Di panggung, foto-foto bersama termul, menerima tamu, pergi ke mana-mana (kecuali ke pengadilan)? Karena dia, menurut keyakinan saya, menjalankan strategi Playing Victim. Merasa jadi korban karena terus "dianiaya" oleh RRT. Dihina-hina dan direndah-rendahkan padahal sedang sakit."
"Jadi, pada dasarnya, dia memaksakan diri tampil di panggung PSI bukan untuk mendukung partai huhu, tetapi menggunakan panggung itu untuk tampil sebagai 'si sakit yang terus disakiti'," demikian tulis dokter Tifa.
Ia juga menyoroti pengulangan kalimat "Saya masih sanggup" yang diucapkan Jokowi dengan suara parau di hadapan peserta Rakernas.
Menurut Dokter Tifa, pengulangan itu bukan sekadar pernyataan keteguhan, melainkan cerminan letupan bawah sadar dan gejolak batin yang tidak sepenuhnya terkontrol.
Dokter Tifa menilai Jokowi seolah memanfaatkan kondisi kesehatannya untuk mempertahankan relevansi, pengaruh, dan legitimasi moral di ruang publik.
Alih-alih memantik simpati, dokter Tifa menilai penampilan Jokowi justru memunculkan respons sinis dari masyarakat.
Ia menyinggung berbagai komentar publik yang mempertanyakan ambisi Jokowi yang dinilai tak pernah surut, meski telah mencapai hampir seluruh puncak kekuasaan.
Baca tanpa iklan