TRIBUNNEWS.COM - Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia melakukan audiensi dengan Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisis Kebijakan, Dirgayuza Setiawan, untuk membahas kontribusi pelajar Indonesia di luar negeri terhadap pembangunan nasional.
Pertemuan ini digelar di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/2/2026), yang juga dihadiri Staf Khusus Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Bidang Industri dan Kerja Sama Luar Negeri, Oki Earlivan Sampurno.
Koordinator PPI Dunia periode 2025/2026, Andika Ibrahim Nasution, bersama jajaran pengurus turut hadir secara langsung.
Dalam pertemuan tersebut, Andika menyampaikan pentingnya penyelarasan program PPI Dunia dengan Asta Cita sebagai arah pembangunan Indonesia.
PPI Dunia menegaskan perannya sebagai penghubung akses pendidikan global, terutama melalui pemberian informasi dan motivasi studi luar negeri kepada siswa Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda.
PPI Dunia juga mengungkapkan bahwa jumlah pelajar Indonesia di luar negeri diperkirakan mencapai 200.000 orang atau sekitar 0,009 persen dari total penduduk Indonesia.
Angka ini dinilai sebagai potensi besar dalam mencetak sumber daya manusia unggul.
Baca juga: PPI Turki Gelar Resepsi Diplomatik untuk Perkuat Diplomasi Budaya Indonesia
Selain itu, PPI Dunia menyoroti perlunya perhatian khusus terhadap perlindungan pelajar diaspora, mengingat selama ini negara lebih memfokuskan perlindungan pada pekerja migran, sementara pelajar masih mengandalkan koordinasi PPI negara dan KBRI.
Andika menjelaskan bahwa PPI Dunia telah menjalankan berbagai program, seperti Gerakan Pelajar Indonesia Mendunia dan Bantu Guru Melihat Dunia.
Ke depan, PPI Dunia juga merencanakan Program PPI Dunia Mengabdi 2026 yang akan digelar di lima pulau utama di Indonesia.
Menanggapi hal tersebut, Dirgayuza Setiawan menekankan pentingnya kolaborasi dan jaringan melalui PPI Dunia dengan berlandaskan tiga kunci utama, yakni integritas, kapasitas, dan jejaring.
Ia menilai banyak pelajar Indonesia di luar negeri memiliki hasil riset berkualitas, namun masih terkendala dalam mengomunikasikan dan mempublikasikan karya ilmiah mereka secara luas.
Menurutnya, ruang media sosial seharusnya dimanfaatkan oleh individu berkapasitas, seperti akademisi dan peneliti Indonesia, untuk menyebarkan hasil riset yang berdampak.
Ia juga mendorong PPI Dunia membentuk program khusus untuk mendiseminasikan hasil penelitian pelajar dan alumni Indonesia di luar negeri.
Dirgayuza mengingatkan bahwa hanya sekitar 5 persen pelajar Indonesia di luar negeri yang aktif dalam kepengurusan PPI.
Baca tanpa iklan