Ringkasan Berita:
- UKI meluncurkan Program Studi Doktor Manajemen dalam rangka menyiapkan sumber daya manusia unggul
- Doktor Manajemen disiapkan untuk menjawab tujuan negara, yakni kesejahteraan, dengan memanfaatkan manajemen sebagai instrumen strategis
- Kaprodi Doktor Manajemen UKI, Lis Shinta, mengungkapkan kekhasan utama program ini terletak pada pendekatan GRCS
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Universitas Kristen Indonesia (UKI) meluncurkan Program Studi Doktor Manajemen setelah melalui proses perencanaan panjang dan pertimbangan strategis sejak beberapa tahun lalu.
Rektor UKI, Dhaniswara Harjono, menegaskan kehadiran program studi baru ini bukan keputusan instan, melainkan jawaban atas kebutuhan bangsa dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul.
“Ini sudah direncanakan sejak lama. Sejak 2018, setelah Pak Jokowi hadir ke UKI, kami mulai menyiapkan beberapa program studi doktor,” ujar Dhaniswara di UKI, Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Dhaniswara menjelaskan, UKI lebih dulu membuka Doktor Pendidikan Agama Kristen pada 2019, disusul Doktor Hukum, seiring pemahaman bahwa Indonesia adalah negara hukum.
Sementara Doktor Manajemen sempat tertunda akibat pandemi Covid-19.
Baca juga: Festival Kebangsaan UKI, Ajakan Bagi Mahasiswa Ambil Peran Bangun Peradaban Bangsa
“Seharusnya memang kita persiapkan Doktor Manajemen dan Doktor Pendidikan, tetapi karena situasi waktu itu Covid, kita tunda. Baru sekarang Doktor Manajemen ini kita luncurkan, melalui pertimbangan yang sangat matang,” jelasnya.
Menurut Dhaniswara, Doktor Manajemen disiapkan untuk menjawab tujuan negara, yakni kesejahteraan, dengan memanfaatkan manajemen sebagai instrumen strategis.
“Kita paham tujuan negara adalah kesejahteraan. Hukum adalah alat dan sarana, maka kita siapkan Doktor Manajemen dengan harapan melahirkan SDM unggul, terutama dalam manajemen risiko, pemahaman SOP, dan tata kelola,” tegasnya.
Baca juga: Bekali Mahasiswa Baru, Rektor UKI Dorong Mahasiswa Adaptif di Era Disrupsi
Peluncuran Doktor Manajemen ini juga sejalan dengan roadmap UKI sebagai universitas riset.
Dhaniswara menyebut UKI telah terakreditasi unggul sejak 2022, dengan 13 program studi berstatus unggul.
“Doktor Manajemen ini otomatis akan menghasilkan banyak riset dan penelitian. Kita upayakan agar bisa dihilirisasi, berdampak, dan memberi manfaat bagi masyarakat luas,” kata dia
Sementara itu, Kepala Program Studi Doktor Manajemen UKI Prof Lis Sintha mengungkapkan kekhasan utama program ini terletak pada pendekatan GRCS (governance, risk, compliance, sustainability).
Bahkan, saat launching resmi, antusiasme calon mahasiswa disebut cukup tinggi.
“Sudah cukup banyak yang menelepon dan bertanya. Hari ini kita undang mereka hadir. Apalagi Pak Rektor katanya akan memberikan diskon besar. GRCS itu kekhasan kita. Ini tantangan besar bagi perusahaan modern yang makin kompleks, sehingga perlu tata kelola yang baik,” kata Lis Sintha.
Dia menilai pemimpin organisasi tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman praktis tanpa fondasi keilmuan yang kuat.
“Kalau pimpinan hanya praktis tanpa ilmu, itu sangat kurang. Maka Doktor Manajemen ini menawarkan keilmuan GRCS,” ujarnya.
Lis menekankan, GRCS tidak hanya relevan bagi korporasi, tetapi juga pemerintah, perguruan tinggi, hingga organisasi non-profit dan yayasan sosial.
“Kekhasan kita bukan hanya untuk korporasi, tapi juga organisasi nirlaba. Belum ada program doktor yang membuka kekhususan GRCS untuk organisasi sosial dan nirlaba. Itu keunikan kita,” tegasnya.
Menurutnya, penerapan GRCS di Indonesia masih relatif terbatas, padahal risiko ada di mana-mana dan harus dikelola agar tidak membesar.
"Di Indonesia ini baru mulai. Karena itu S3 Doktor Manajemen ini melanjutkan penguatan keilmuan yang sebelumnya ada di S2 Manajemen Risiko,” kata dia.
Terkait lulusan, Lis Sintha menyebut terdapat tiga profil utama, yakni Doktor GRCS korporasi, Doktor GRCS finansial, serta Doktor GRCS untuk organisasi sosial dan nirlaba.
“Masyarakat atau mahasiswa nanti tinggal memilih fokus dan konsentrasinya,” tandasnya.
Baca tanpa iklan