News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Menag Nasaruddin Umar: Di Era Post-Truth, Merujuk Kitab Suci Saja Tak Lagi Cukup

Penulis: Mario Christian Sumampow
Editor: Facundo Chrysnha Pradipha
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

MENAG SOAL AGAMA - Menteri Agama Nasaruddin Umar menyapa dan menemui masyarakat Bali yang terdampak banjir, Sabtu (20/9/2025). Nasaruddin Umar menekankan ihwal tantangan menjadi pemimpin komunitas berlabel agama di era saat ini jauh lebih berat dibandingkan masa lalu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menekankan ihwal tantangan menjadi pemimpin komunitas berlabel agama di era saat ini jauh lebih berat dibandingkan masa lalu.

Menurutnya, di era post-truth, para tokoh agama tidak bisa lagi hanya mengandalkan rujukan tekstual dari kitab suci untuk meyakinkan masyarakat.

Pesan ini disampaikan Nasaruddin saat memberikan sambutan dalam acara pelantikan pengurus Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) di GPIB Paulus Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (30/05/2026) malam.

Ia mengingatkan standar kebenaran di tengah masyarakat kini telah mengalami pergeseran yang signifikan.

"Dulu mungkin memang enak menjadi ketua ikatan intelektual atau ikatan cendekiawan karena standar kebenaran itu sangat pakem,” kata Nasaruddin.

“Apa yang dimunculkan, apa yang dikutip di dalam kitab suci, dilegitimasi oleh tokoh-tokoh adat dan tokoh-tokoh masyarakat, itu pasti go ahead, jalan lah," lanjut dia.

Namun, kondisi tersebut berubah total di era sekarang yang ia sebut sebagai era post-truth, di mana fakta objektif seringkali kalah oleh opini atau emosi publik.

“Tapi dalam era post-truth seperti sekarang ini, tidak cukup hanya merujuk kepada kitab suci, tidak cukup hanya merujuk kepada bahasa agama. Tapi ada bahasa lain yang harus menjadi plus kita harus miliki," tegasnya.

Nasaruddin menjelaskan, fakta saat ini membuktikan adanya kebenaran di tengah masyarakat yang justru tidak didukung oleh referensi yang valid.

Bahkan, sering terjadi fenomena di mana sesuatu yang tidak valid secara intelektual justru menang dan dianggap hebat. 

Baca juga: Menag: Sekolah Tidak Ada Guru Agama, Murid akan Dititipkan ke Gereja hingga Masjid

"Mengalahkan yang justru validitasnya sangat tinggi secara akademik," kata Nasaruddin.

Oleh karena itu, ia meminta para intelektual keagamaan untuk memiliki kemampuan plus agar tetap relevan di tengah lingkungan yang semakin rasional dan liberal.

"Ini bukti bahwa kita berada pada suatu era memerlukan seni di dalam memimpin dan beradaptasi," tambah Nasaruddin.

Ia mendorong para pemimpin umat untuk tidak hanya menjadi ilmuwan yang sekadar menguasai teori, tetapi menjadi cendekiawan.

Baginya, seorang cendekiawan bukan hanya pintar dan mengamalkan ilmunya, tapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi lingkungannya.

"Bagaimana mengajak masyarakat kita itu dekat kepada agamanya masing-masing. Jadi tema-tema kita ini sudah sangat sentral sekarang ini. Saya kira sudah bukan lagi waktunya kita mempersoalkan antarumat beragama, tetapi bagaimana menyelesaikan persoalan agama ini akan datang," pungkasnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini