Ringkasan Berita:
- Sejumlah mantan menteri luar negeri dan wakil menteri dipanggil Presiden Prabowo Subianto ke Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (4/2/2/6).
- Pertemuan itu digelar untuk mendiskusikan isu geopolitik dan arah politik luar negeri Indonesia, termasuk langkah Indonesia bergabung dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP).
- Dino mengaku deg-degan usai semua semua pihak menyampaikan pandangannya kepada Presiden.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sejumlah mantan menteri luar negeri dan wakil menteri dipanggil Presiden Prabowo Subianto ke Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (4/2/2/6).
Pertemuan itu digelar untuk mendiskusikan isu geopolitik dan arah politik luar negeri Indonesia, termasuk langkah Indonesia bergabung dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP).
Baca juga: Cerita Siti Zuhro soal Pertemuan dengan Prabowo, Bahas Posisi RI di Board of Peace
Eks Wamenlu Dino Patti Djalal merupakan salah satu sosok yang diundang.
Ia mengaku deg-degan usai semua semua pihak menyampaikan pandangannya kepada Presiden.
Baca juga: Indonesia Gabung Board of Peace, Sekjen PDIP Hasto: Kalau Bung Karno Masih Ada Tidak Begini
"Jadi yang saya apresiasi ya, ini kan ada image Pak Presiden itu suka marah kalau dikritik ya dan itu kita sudah pernah dengar semua. Jadi kita semua agak deg-degan juga nih," kata Dino dalam wawancara khusus dengan Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra di kediamannya di kawasan Cilandak, Jakarta, Sabtu (7/2/2026).
Dino mengaku sempat ragu apakah dirinya bisa berbicara secara terbuka di hadapan Presiden. Namun, ia tetap menyampaikan pandangannya sesuai prinsip yang selama ini ia pegang.
“Saya juga saya juga bicara sebetulnya agak 'oke, ini saya bisa enggak seterbuka ini?' tapi kan saya punya prinsip ya kan, speak truth to power, tuturnya.
Menurut Dino, seluruh masukan yang disampaikan para pihak diterima dengan baik oleh Presiden.
Ia menegaskan tidak ada reaksi emosional seperti yang selama ini kerap dilekatkan pada sosok Prabowo.
Dino juga menilai suasana diskusi berlangsung rasional karena dihadiri para diplomat senior yang terbiasa menyampaikan argumen secara terukur.
Ia pun mengapresiasi sikap Presiden yang tidak hanya mendengarkan, tetapi juga menindaklanjuti poin-poin penting yang disampaikan dalam pertemuan tersebut.
“Alhamdulillah semua beliau catat dan semua beliau respons, alhamdulillah ya. Tidak ada marah, tidak ada muka merengut atau apa gitu ya, tapi juga kita semua kan menyampaikannya juga berdasarkan logika berdasarkan reason," ujarnya.
Baca juga: RI Gabung Board of Peace: Arah Baru Politik Bebas Aktif
Diketahui, BoP resmi diluncurkan di sela World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026).
Lembaga ini dibentuk Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mendorong gencatan senjata antara Israel dan Hamas, memantau proses stabilisasi dan rehabilitasi Gaza, serta mengupayakan perdamaian yang adil berdasarkan hukum internasional.
Prabowo menyebut bergabungnya Indonesia dalam Dewan Perdamaian ini merupakan momentum bersejarah dan peluang nyata untuk mendorong perdamaian bagi rakyat Palestina.
Baca tanpa iklan