Gagasan tersebut diwujudkan secara artistik oleh pemahat nasional Dolorosa Sinaga, yang merancang trofi dalam bentuk figur perempuan berjubah berdiri tegak—melambangkan keteguhan, keheningan, dan kekuatan moral perempuan Indonesia.
Rangkaian acara peluncuran ini ditutup dengan tur Museum Fatmawati yang dipandu langsung oleh Puti Guntur Soekarno, serta ramah tamah dengan jamuan khas Bengkulu seperti gulai pakis, pendap, rendang lokan, hingga kudapan kue lepek binti. Sajian ini menjadi simbol kehadiran memori domestik dan kultural dalam sejarah perjuangan nasional.
Baca tanpa iklan