News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Ramadan 2026

KH Cholil Nafis: Politik Bukan Jalan Saya, Banting Setir Jadi Akademisi

Penulis: Chaerul Umam
Editor: Acos Abdul Qodir
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

WAWANCARA KHUSUS - Wakil Ketua Umum MUI sekaligus Pendiri Pondok Pesantren Cendekia Amanah KH Muhammad Cholil Nafis saat dengan host Tribun Network Geok Mengwan di kawasan Depok, Jawa Barat, Senin (16/2/2026). Mendirikan Pesantren Cendekia Amanah merupakan nasihat dari orang tua Kiai Cholil ketika akan merantau ke Jakarta. Tribunnews/Jeprima

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhammad Cholil Nafis, mengungkapkan dirinya sempat bercita-cita menjadi politisi sebelum akhirnya memilih jalur akademik dan dakwah.

Ketertarikan pada dunia politik muncul saat ia aktif berorganisasi di bangku kuliah.

Cholil pernah menjabat Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tingkat cabang dan aktif dalam dinamika kepemimpinan organisasi mahasiswa.

“Dulu sempat juga ingin jadi politisi. Jadi kan dulu pernah jadi ketua PMII di cabang. Jadi berpikir jadi politisi,” kata Kiai Cholil, dalam wawancara khusus program "Cerita Kiai" bersama Tribun Network, di Jakarta, Senin (16/2/2026).

Pengalaman di Panwaslu

Pada 2003, Cholil dipercaya menjadi Wakil Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Provinsi DKI Jakarta.

Dari pengalaman itu, ia mulai mengukur dirinya.

“Pada 2003 itu saya jadi Wakil Ketua Panitia Pengawas Pemilu di Provinsi DKI Jakarta. Tapi setelah tahu begitu kok saya enggak, kayaknya bukan dunia saya politisi. Ini bukan jalan saya,” ujarnya.

Ia pun memutuskan untuk banting setir.

“Akhirnya saya banting setir. Tahun 2004 itu daftar jadi dosen,” tuturnya.

Baca juga: Niat Sholat Tarawih, Tata Cara, dan Keutamaannya, Dilengkapi Niat Salat Witir serta Doa Kamilin

Jalur Akademik

Cholil diterima sebagai dosen dan sempat mengajar di Universitas Indonesia, sekaligus mendaftar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sejak itu, ia memantapkan diri di jalur intelektual.

Menurutnya, dunia akademik menuntut peningkatan kapasitas berkelanjutan.

“Kalau saya tidak banyak mendapatkan short course, tidak mendapat pendidikan, saya akan kalah dengan teman-teman yang lulusan dari luar, yang hebat-hebat itu,” ujarnya.

Dorongan tersebut membawanya melanjutkan studi doktoral di University of Malaya, Malaysia.

“Akhirnya saya luluskan S3 ke Malaysia, di Malaya. Karena malah saya grade-nya itu tinggi,” katanya.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini