News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Menjaga Warisan Leluhur: Kisah Seniman Wayang Beber Dulu, Sekarang dan Masa Depan

Penulis: Galuh Widya Wardani
Editor: Muhammad Nursina Rasyidin
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

GALERI WAYANG BEBER - Galeri Wayang Beber di Baluwarti Surakarta, Ndalem Atmo Supomo atau Galeri Naladerma saat kunjungan Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani, Sabtu (28/2/2026)

TRIBUNNEWS.COM - Baluwarti dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya yang konsisten mengusung pelestarian tradisi Jawa di Kota Surakarta.

Berada di kawasan Keraton Surakarta Hadiningrat, lingkungan ini tak sekadar menyimpan nilai historis, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi tumbuh dan terjaganya berbagai kesenian hingga kini.

Di salah satu sudut Baluwarti berdiri Ndalem Atmo Supomo, rumah bernuansa Jawa dengan pendopo khas, tempat karya-karya Wayang Beber terpajang di dinding.

Rumah tersebut merupakan kediaman seniman Wayang Beber sekaligus abdi dalem Keraton, Raden Ngabei Atmo Supomo.

Kini, rumah itu tak lagi sekadar hunian, melainkan telah disulap menjadi ruang pelestarian budaya bernama Galeri Naladerma.

Di galeri inilah jejak masa lalu, denyut masa kini, dan harapan masa depan Wayang Beber bertemu.

Wayang Beber Dulu, Masa Atmo Supomo

Menurut Doni Susanto, cucu Atmo Supomo, sang eyang telah membuat Wayang Beber sejak masa pemerintahan Pakubuwana X, XI dan XII di Keraton Surakarta Hadiningrat.

"Beliau pelukis wayang beber. Eyang saya ditunjuk oleh keraton untuk membuat karya pesanan raja," ujar Doni kepada Tribunnews, Sabtu (28/2/2026).

Doni menjelaskan, pada masa itu, pelukis bekerja bukan untuk kepentingan komersial. 

Baca juga: Astrid Widayani Blusukan ke Baluwarti, Telusuri Jejak Wayang Beber di Lingkungan Keraton Surakarta

Karya-karya Atmo Supomo dibuat atas perintah Sinuhun, bukan untuk diperjualbelikan.

Karena itu, peninggalan karya asli Atmo Supomo di rumah tidak banyak.

"Pelukis zaman dulu bukan untuk dijual seperti sekarang. Eyang saya melukis atas perintah Sinuwun, jadi tidak banyak yang tersisa di rumah," jelas Doni.

Atmo Supomo sendiri menjabat sebagai Mantri Sasono Prabu di lingkungan keraton.

Salah satu karyanya merupakan reproduksi koleksi dari Museum Radya Pustaka, yang dibuat kembali atas izin resmi.

Media yang digunakan pada masa itu adalah kertas dluwang.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini