News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Anggota DPR Ingatkan Pemerintah akan Risiko Ekonomi Bagi Indonesia Pasca Penutupan Selat Hormuz

Penulis: Fersianus Waku
Editor: Dewi Agustina
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, mengingatkan pemerintah akan ancaman risiko akibat eskalasi konflik terbuka antara Israel yang didukung Amerika Serikat (AS) dengan Iran, khususnya pasca-penutupan Selat Hormuz.

Azis menilai, situasi saat ini bukan lagi sekadar konflik regional, melainkan ancaman terhadap arteri energi global yang dampaknya akan langsung dirasakan oleh perekonomian Indonesia.

Baca juga: Selat Hormuz Diblokade Iran dan Kilang Arab Saudi Tutup, Minyak dan Gas Asia Jadi Rebutan

"Serangan udara, balasan drone dan rudal, perluasan front hingga mendekati Lebanon, serta ancaman terhadap Selat Hormuz, semuanya menunjukkan bahwa ketegangan telah bergerak dari ruang diplomasi menuju arena konfrontasi terbuka," kata Azis kepada wartawan, Rabu (4/3/2026).

Ia menjelaskan, Selat Hormuz merupakan jalur bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. 

Menurut Azis, jika jalur ini terganggu, dunia akan menghadapi lonjakan harga minyak, kenaikan premi asuransi, hingga guncangan rantai pasok.

 

ON FOCUS TRIBUNNEWS - Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi saat wawancara khusus dengan Tribunnews via zoom terkait dampak konflik Israel-Amerika Serikat (AS) terhadap Iran dan penutupan Selat Hormuz. Penutupan Selat Hormuz memunculkan kekhawatiran akan dampak terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia. (Tribunnews.com/Dok Tribunnews)

 

Ia menyebut, sebagai negara importir minyak, Indonesia tidak bisa merasa jauh dari konflik tersebut. 

Kenaikan harga minyak dunia akan berdampak langsung pada beban impor, menekan nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS, dan memicu inflasi impor.

Pemerintah, menurut Azis, akan dihadapkan pada dilema berat antara mempertahankan subsidi energi yang membengkak atau menyesuaikan harga BBM dengan risiko menekan daya beli masyarakat.

"Krisis di Selat Hormuz mungkin terjadi ribuan kilometer dari Nusantara. Tetapi ketika jalur energi global bergetar, dapur kita ikut merasakan panasnya," ujarnya. 

Ia menegaskan, jika konflik berkepanjangan, Indonesia bisa menghadapi tekanan simultan pada sisi fiskal, nilai tukar, dan pertumbuhan ekonomi.

Karena itu, Azis mendorong pemerintah untuk mengambil peran aktif melalui; pertama, jalur diplomasi yang substantif. 

Azis meminta Indonesia memanfaatkan posisinya sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G20 untuk mendorong de-eskalasi dan gencatan senjata.

"Netralitas tidak berarti pasif; ia berarti menjaga jarak dari blok kekuatan sambil aktif membangun ruang dialog," tegasnya. 

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini