Ringkasan Berita:
- Menteri HAM Natalius Pigai menghadiri 'Kick Off Program Media, Pers, dan Pembangunan Peradaban Hak Asasi Manusia di Indonesia' di Jakarta hari ini.
- Pigai mengatakan dirinya hanya bagian kecil dari para pejuang HAM di Indonesia.
- Dia menyebut sejumlah nama mulai dari Prof Jimly, Makarim Wibisono, Marzuki Darusman, Rocky Gerung hingga Haris Azhar.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai mengatakan keberadaan Kementerian HAM saat ini tidak lepas dari kontribusi para aktivis dan tokoh pembela hak asasi manusia di Indonesia.
Pigai mengatakan dirinya hanya bagian kecil dari para pejuang HAM di Indonesia.
"Yang membangun Kementerian HAM itu punggawa hak asasi manusia Republik Indonesia, bukan oleh Natalius Pigai. Di hadapan mereka seperti Prof Jimly, Makarim Wibisono, Marzuki Darusman, saya ini anak kecil, adik, anak didik," kata Pigai.
Hal itu disampaikan Pigai pada Kick Off Program Media, Pers, dan Pembangunan Peradaban Hak Asasi Manusia di Indonesia yang digelar di Hotel Sahid, Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Menurutnya, banyak tokoh HAM yang memberikan sumbangsih besar untuk bangsa.
Dirinya menyebut sejumlah tokoh HAM yakni Mantan Ketua Komnas HAM Hafid Abbas dan Ifdhal Kasim serta tokoh HAM Amiruddin Al Rahab yang disebutnya baru saja kembali terpilih sebagai komisioner Komnas HAM.
Ia juga menyinggung tokoh lain seperti komisioner Komnas HAM Roichatul Aswidah, serta sejumlah tokoh HAM nasional seperti Marzuki Darusman, Rocky Gerung, dan Haris Azhar.
Pigai mengaku berani menerima jabatan sebagai Menteri HAM karena mendapat dukungan dari para tokoh HAM senior tersebut.
"Ketika saya ditunjuk menjadi Menteri HAM, saya berani ambil karena semua ada. Prof Jimly ada, Pak Ifdhal Kasim ada, profesor-profesor semua membantu membesarkan Kementerian HAM," ujarnya.
Menurutnya keberadaan berbagai tokoh tersebut membuat Kementerian HAM seperti "kementerian LSM" karena diisi oleh para aktivis dan pembela HAM dari berbagai latar belakang.
"Kementerian HAM ini kementerian LSM. Tenaga ahli kami ada yang dari Ombudsman, ada dari Komnas HAM, bahkan dari berbagai lembaga lain," pungkasnya.
Baca tanpa iklan