News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Muktamar NU

Tokoh NU: Muktamar Harus Bebas dari Politik Uang

Editor: Hasanudin Aco
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

JELANG MUKTAMAR NU - Tokoh NU, HRM. Khallilur R Abdullah Sahlawiy atau biasa disapa Gus Lilur mengingatkan penyelenggaraan Muktamar NU mendatang harus bebas dari politik uang.

"NU harus menunjukkan bahwa integritas bukan sekadar slogan, melainkan standar yang ditegakkan. Caranya, pecat semua orang di dalam kepengurusan yang terindikasi terlibat korupsi," tutur Pengusaha Nasional Asal Situbondo ini menambahkan.

NU Cenderung Dijadikan Kendaraan Politik Kekuasaan 

Gus Lilur juga mengungkapkan persoalan yang lebih struktural NU, yakni dijadikan sebagai kendaraan politik kekuasaan.

Menurut dia, saat ini, NU tidak hanya didekati, tetapi juga diperebutkan sehingga banyak politisi melihat NU sebagai basis legitimasi dan mobilisasi. 

"Mereka masuk, berjejaring, lalu perlahan mengarahkan organisasi sesuai kepentingannya. Penunjukan Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) sebagai Ketua OC Muktamar, dalam konteks ini, tidak bisa dilepaskan dari pembacaan yang lebih luas. Ini bukan soal individu, melainkan soal batas antara pengabdian dan pemanfaatan," kata dia 

NU, kata Gus Lilur harus tegas menjaga dirinya agar tidak berubah menjadi alat. Pasalnya, sekali NU kehilangan independensinya, maka NU tidak lagi menjadi penjaga moral bangsa, tetapi hanya bagian dari konfigurasi kekuasaan.

"Pada akhirnya, semua ini bermuara pada satu pertanyaan mendasar, siapa yang layak memimpin NU? Muktamar ini harus menjadi momentum untuk mengembalikan NU kepada ulama yang benar-benar alim. Bukan sekadar figur yang memiliki akses politik, tetapi mereka yang memiliki kedalaman ilmu, kejernihan pandangan, dan keteguhan moral," beber dia.

Gus Lilur juga menegaskan NU tidak didirikan oleh politisi. Ia didirikan oleh ulama.

Menurut dia, hanya dengan kembali kepada ulama yang otoritatif secara keilmuan dan moral, NU bisa menjaga jati dirinya.

Ketika ulama digantikan oleh logika politik, maka yang hilang bukan hanya arah, tetapi juga roh organisasi.

"Konferensi Besar yang akan digelar pada 25 April 2026 seharusnya menjadi pembuka jalan ke sana. Sebuah ruang awal untuk menegaskan bahwa NU masih memiliki kesadaran untuk merawat dirinya, membersihkan dirinya, dan menata kembali arah perjalanannya," imbuh dia.

Lebih lanjut, Gus Lilur mengatakan NU masih ingin dan bisa berdiri sebagai pilar bagi Republik Indonesia, bukan sekadar penumpang dalam kekuasaan, tetapi juga penopang bagi negara yang bersih dan berintegritas. Karena itu, kata dia, Muktamar kali ini bukan hanya tentang siapa yang akan terpilih, tetapi tentang nilai apa yang akan dimenangkan.

"Jika yang dimenangkan adalah nilai, maka NU akan tetap tegak sebagai kekuatan moral. Namun jika yang dimenangkan adalah kepentingan, maka yang tersisa hanyalah organisasi besar tanpa arah. Karena itu, di tengah semua dinamika yang akan berlangsung, NU perlu kembali pada satu sikap yang tidak boleh ditawar, menolak yang haram dan menjadikannya sebagai fondasi bagi masa depan yang bersih," pungkas Gus Lilur.

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini