News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Program Makan Bergizi Gratis

Kajian KPK: Dominasi BGN dalam Program MBG Pinggirkan Pemda dan Lemahkan Checks and Balances

Penulis: Ilham Rian Pratama
Editor: Muhammad Zulfikar
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

MAKAN BERGIZI GRATIS - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana usai Rapat Terbatas Tata Kelola Penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis di Kantor Kemenko Pangan, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (2/4/2026). Berdasarkan temuan Direktorat Monitoring yang tertuang dalam Lampiran Laporan Tahunan KPK 2025, pelaksanaan program MBG menjadikan Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai aktor tunggal.

 

Ringkasan Berita:

  • Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyoroti kelemahan tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai terlalu terpusat. 
  • Berdasarkan temuan Direktorat Monitoring yang tertuang dalam Lampiran Laporan Tahunan KPK 2025, pelaksanaan program raksasa ini menjadikan Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai aktor tunggal.
  • Pendekatan sentralistik ini dinilai meminggirkan peran strategis pemerintah daerah dan melumpuhkan mekanisme saling uji (checks and balances).

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyoroti kelemahan tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai terlalu terpusat. 

Berdasarkan temuan Direktorat Monitoring yang tertuang dalam Lampiran Laporan Tahunan KPK 2025, pelaksanaan program raksasa ini menjadikan Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai aktor tunggal.

Baca juga: BGN Wajibkan Mitra SPPG Daftarkan Relawannya Dapat BPJS Ketenagakerjaan

Badan Gizi Nasional adalah lembaga pemerintah di Indonesia yang bertugas menangani urusan terkait gizi masyarakat secara nasional.

Pendekatan sentralistik ini dinilai meminggirkan peran strategis pemerintah daerah dan melumpuhkan mekanisme saling uji (checks and balances).

Program strategis nasional yang resmi diluncurkan pada Januari 2025 ini memiliki alokasi anggaran yang sangat fantastis, melonjak tajam dari Rp 71 triliun menjadi Rp 171 triliun. 

Namun, KPK mencatat bahwa besaran anggaran tersebut tidak diimbangi dengan regulasi, tata kelola, dan mekanisme pengawasan yang memadai.

Minimnya pelibatan daerah membuat pengawasan di lapangan menjadi rentan terhadap inefisiensi, konflik kepentingan, hingga potensi korupsi.

"Pendekatan sentralistik dengan BGN sebagai aktor tunggal meminggirkan peran pemerintah daerah dan melemahkan mekanisme checks and balances dalam penentuan mitra, lokasi dapur, dan pengawasan," demikian bunyi laporan kajian KPK tersebut, dikutip Jumat (17/4/2026).

KPK menemukan bahwa kewenangan terpusat yang tidak dibarengi dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas telah membuka ruang lebar bagi konflik kepentingan, terutama saat penentuan mitra Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) atau pengelola dapur.

Baca juga: BGN Tuding Banyak Pemilik SPPG Lakukan Pemufakatan Jahat dengan Sekolah

Lemahnya transparansi dalam verifikasi yayasan mitra serta penentuan lokasi dapur berdampak langsung pada kualitas layanan. 

Akibatnya, banyak dapur yang tidak memenuhi standar teknis, yang terbukti dari munculnya berbagai kasus keracunan makanan di sejumlah daerah.

Selain masalah sentralisasi, KPK juga mengkritisi penggunaan mekanisme Bantuan Pemerintah (Banper) dalam pelaksanaan program ini. 

Mekanisme tersebut justru memperpanjang rantai birokrasi, menimbulkan potensi perburuan rente, serta mengancam porsi anggaran bahan pangan yang bisa menyusut akibat terpotong biaya operasional dan sewa.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini